725 Siswa dan Guru Tumbang Akibat Keracunan Massal di Rembang

Daerah, Sosial28 Dilihat
REMBANG, kabarSBI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai masalah serius. Sebanyak 725 siswa dan guru di SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengalami dugaan keracunan makanan usai menyantap menu program tersebut pada Kamis, 3 September 2026. Angka ini melampaui jumlah korban pada insiden serupa yang baru saja terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur.
Berdasarkan data sementara, dari total 725 korban, 25 di antaranya adalah guru. Mereka terpaksa dirawat di fasilitas kesehatan setempat dengan gejala mual, muntah, hingga pingsan. “Kami tidak menyangka, makanan yang katanya bergizi justru membuat kami mual dan muntah. Anak-anak panik, kami pun ikut panik,” ujar seorang guru korban keracunan yang meminta identitasnya dirahasiakan, Jumat (4/9/2026).
Insiden di Rembang ini merupakan kelanjutan dari kasus di Sidoarjo beberapa hari sebelumnya. Hingga kini, jumlah korban di wilayah tersebut mencapai 668 orang, yang mayoritas merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, ditambah sejumlah siswa dari sekolah-sekolah di sekitarnya.
Lonjakan pasien yang drastis membuat ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit sekitar Rembang penuh sesak. Posko darurat terpaksa didirikan untuk menampung dan menangani korban yang terus berdatangan. Meski sebagian korban telah diperbolehkan pulang, rasa waswas masih menyelimuti para orang tua yang berbondong-bondong datang ke sekolah dan rumah sakit.
“Program ini bagus, tapi kalau begini, siapa yang bisa menjamin keselamatan mereka?” keluh seorang wali murid di lokasi kejadian.
Menanggapi situasi ini, pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan setempat menyatakan tengah melakukan investigasi mendalam untuk memastikan penyebab pasti keracunan. Fokus pemeriksaan diarahkan pada peninjauan ulang mekanisme distribusi dan kualitas bahan pangan yang digunakan dalam program MBG.
Kasus beruntun ini menegaskan pentingnya pengawasan distribusi pangan dan penerapan standar keamanan makanan yang lebih ketat. Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi siswa justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan bila kontrol kualitas tidak dijalankan dengan baik. Bagi para korban dan keluarga, jawaban atas kegagalan pengawasan ini jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar permintaan maaf.
Reporter: Ali