JAKARTA UTARA, KabarSBI.com — Tidak semua orang dapat memilih dari lingkungan seperti apa dirinya dilahirkan. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Bagi Agung Sulistio, Jakarta Utara bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan ruang yang menempa dirinya sejak masa kanak-kanak.
Agung merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Perjalanan keluarganya tidak selalu berlangsung mudah. Dua saudaranya telah meninggal dunia, sementara lima bersaudara lainnya melanjutkan kehidupan dengan membawa kenangan, kehilangan, serta perjalanan masing-masing.
Di balik perjalanan itu, Agung tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang yang cukup kuat. Ayahnya dahulu merupakan seorang pengusaha yang memiliki tiga kapal ikan. Dari garis keluarga sang ayah terdapat keluarga yang berlatar belakang TNI. Sementara dari pihak ibu kandung, Agung memiliki saudara yang berdinas sebagai anggota TNI dan Polri.
Namun, latar belakang tersebut tidak pernah dijadikan Agung sebagai jalan pintas dalam menjalani kehidupan. Ia memilih membangun nama, kepercayaan, dan perjalanan karier melalui kemampuan serta perjuangannya sendiri. Baginya, hubungan keluarga merupakan bagian dari sejarah, bukan alasan untuk memperoleh keistimewaan.
Sejak kecil, Agung juga menyaksikan realitas kehidupan yang keras di lingkungan tempat ia tumbuh. Mabuk-mabukan, perjudian, hingga keributan pernah menjadi bagian dari pemandangan sosial di sekelilingnya. Namun, ia memilih tidak menjadikan keadaan tersebut sebagai cetak biru kehidupannya.
Justru dari lingkungan itu Agung belajar bahwa seseorang tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan, nama keluarga, ataupun lingkungan tempat ia dibesarkan. Nilai seseorang dibentuk melalui pilihan, kerja keras, tanggung jawab, serta keberanian menghadapi kehidupan.
Kehilangan dua saudara menjadi bagian lain yang tidak terpisahkan dari perjalanan tersebut. Kehilangan mengajarkannya tentang arti keluarga, keteguhan, dan bagaimana tetap melangkah ketika kehidupan menghadirkan kenyataan yang tidak selalu mudah diterima.
Perjalanan panjang kemudian membawa Agung memasuki dunia jurnalistik dan organisasi. Kini, ia dipercaya sebagai Pimpinan Redaksi Sahabat Bhayangkara Indonesia (SBI) melalui KabarSBI.com, Ketua Umum Gabungan Media Online Cetak Ternama (GMOCT), serta Ketua II DPP Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (LPK-RI).
Tiga amanah tersebut menjadi bagian dari fase baru dalam perjalanan hidupnya. Dari seorang anak yang tumbuh di Jakarta Utara, Agung kini menjalankan tanggung jawab di bidang jurnalistik, organisasi media, serta perlindungan konsumen.
“Saya tidak pernah ingin mengandalkan siapa keluarga saya. Kalau ada sesuatu yang saya capai, saya ingin itu lahir dari perjuangan dan kemampuan saya sendiri. Latar belakang keluarga adalah bagian dari sejarah, tetapi perjalanan hidup harus saya pertanggungjawabkan sendiri,” demikian prinsip yang menggambarkan perjalanan Agung.
Bagi Agung, masa lalu bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Lingkungan keras, kehilangan dua saudara, latar belakang keluarga, hingga perjalanan panjang menuju dunia jurnalistik justru menjadi bagian dari cerita yang membentuk dirinya.
Ia tidak menolak masa lalu, tetapi juga tidak membiarkan masa lalu menentukan masa depannya. Dari lingkungan yang keras, ia memilih membangun jalan sendiri. Dari keluarga yang memiliki latar belakang TNI dan Polri, ia memilih untuk tidak menggantungkan perjalanan hidupnya pada nama besar keluarga.
Kini, perjalanan tersebut berlanjut melalui dunia media dan organisasi. Amanah sebagai pimpinan redaksi, ketua umum organisasi media, dan pimpinan di lembaga perlindungan konsumen bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan profesionalisme dan integritas.
Kisah Agung Sulistio pada akhirnya bukan semata-mata tentang dari mana seseorang berasal. Ini adalah cerita tentang bagaimana seseorang membangun dirinya sendiri ketika memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidup.
Dari Jakarta Utara, tempat ia dilahirkan dan ditempa, Agung terus menulis perjalanan hidupnya. Masa lalu menjadi pelajaran, keluarga menjadi bagian dari sejarah, sementara masa depan tetap harus diperjuangkan dengan langkah sendiri.
KabarSBI.com — Masa lalu adalah bagian dari cerita. Latar belakang adalah bagian dari identitas. Tetapi nama baik, kepercayaan, dan tanggung jawab harus dibangun melalui perjuangan sendiri.
(red)




