
Bencana longsor terjadi pada Jumat malam, 16 Januari 2026, sekitar pukul 19.41 WIB, akibat hujan deras berintensitas tinggi sejak siang hari. Material tanah dan bebatuan menutup akses utama jalan kabupaten Wisnu–Watukumpul di Dusun Pejarakan RT 06/RW 01 sepanjang puluhan meter, sehingga memutus total jalur penghubung warga menuju Watukumpul dan Randudongkal.
Meski demikian, berkat penanganan cepat berbasis gotong royong, dampak longsor berhasil ditekan. Tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan rumah warga. Kendaraan roda dua sempat menggunakan jalur darurat sementara, sembari menunggu proses pembersihan material longsor yang menutup badan jalan.
Camat Watukumpul, Arief Rahman Hakim, segera turun langsung ke lokasi dan mengoordinasikan penanganan darurat. Ia menggerakkan Seksi Trantibum, relawan Destana, Pemerintah Desa Wisnu, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TAGANA, serta masyarakat setempat untuk melakukan evakuasi dan pembersihan material longsor secara manual dengan peralatan seadanya.
Upaya tersebut mendapat respons positif dari warga. “Langkahnya cepat, tepat, dan terkoordinasi. Alat berat segera didatangkan ke lokasi dan warga dilibatkan langsung. Ini sangat membantu kami,” ujar salah satu warga Dusun Pejarakan saat ditemui di lokasi kejadian.
Selain penanganan lapangan, Camat Watukumpul juga segera melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan daerah guna memperkuat koordinasi lintas sektor. Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah tersebut.
M. Fajroji menilai langkah cepat ini sangat krusial untuk mencegah dampak sosial dan ekonomi yang lebih besar, sebagaimana pernah terjadi pada peristiwa longsor sebelumnya di Dusun Mentek dan Lembah Gemantung pada 2025. Hingga kini, pihak kecamatan terus melakukan pemantauan intensif sampai proses pembersihan tuntas dan akses jalan benar-benar pulih.
(MF/Red)