
Agung Sulistio mengungkapkan bahwa dirinya menerima laporan langsung dari pedagang telur gulung yang biasa berjualan di lingkungan sekolah. Para pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan sejak diberlakukannya program makan gratis bagi siswa.
Salah satu contoh datang dari Imam, pedagang telur gulung asal Pemalang, Jawa Tengah. Ia menjalani hidup di kampung halamannya sendiri dan memiliki dua orang anak yang menjadi tanggung jawabnya. Sebelum adanya program tersebut, Imam mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp120.000 hingga Rp150.000 per hari. Namun kini, pendapatannya menurun drastis menjadi hanya Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari akibat berkurangnya pembeli.
Menurut Agung, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Ia menilai bahwa meskipun program makan bergizi gratis memiliki tujuan yang baik dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak, dampak terhadap pelaku usaha kecil di sekitar sekolah tidak boleh diabaikan.
“Pedagang kaki lima ini sudah lama menjadi bagian dari ekosistem sekolah. Mereka bukan hanya berjualan, tetapi juga menggantungkan hidup untuk keluarga mereka. Jika tidak ada solusi, maka akan muncul masalah sosial baru,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa negara seharusnya tidak hanya hadir sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai pihak yang memberdayakan masyarakat kecil. Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah melibatkan pedagang dalam program tersebut, baik melalui pelatihan, kemitraan, maupun skema pemberdayaan ekonomi.
Dengan adanya laporan ini, Agung berharap pemerintah dapat membuka ruang dialog dengan para pedagang kecil agar kebijakan yang dijalankan tidak hanya berhasil secara program, tetapi juga adil secara sosial. “Jangan sampai program yang baik justru mematikan usaha rakyat kecil,” tegasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan publik selalu memiliki dampak yang luas. Diperlukan pendekatan yang lebih inklusif agar manfaat program dapat dirasakan tanpa mengorbankan keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil.
(tim/red)