
Dalam sesi bertema Analisis Kebijakan dan Pembangunan Daerah di Bidang Pendidikan, Udin secara lugas menyebut kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai indikator absolut kemajuan, mengungguli faktor kekayaan alam. Ia mencontohkan Singapura sebagai model pembangunan berbasis SDM, sejalan dengan visi “Kuningan Melesat” yang dicanangkan Bupati dan menempatkan pendidikan sebagai prioritas kebijakan.
Disdikbud Kuningan kini mengintegrasikan pendekatan hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat. Skema ini bukan sekadar jargon kolaborasi, tetapi instrumen eksekusi kebijakan agar lebih adaptif, terukur, dan relevan dengan kebutuhan daerah. Kebijakan tersebut juga selaras dengan Permendikbud No. 22/2016 tentang Standar Proses dan berbagai regulasi teknis pendidikan lainnya.
Beragam program prioritas tengah dijalankan untuk mempercepat capaian pembangunan sektor pendidikan. Di antaranya Gerbang Sekolahku guna menekan angka putus sekolah, Muatan Lokal Gunung Ciremai yang mengintegrasikan kearifan lokal, English Day setiap Rabu untuk memperkuat kompetensi global, Mini Teater Edukatif berbasis digital, serta gerakan sapa pagi “Pagi Ku Cerahku”. Disdikbud juga memfokuskan rehabilitasi ruang kelas, peningkatan kualitas tenaga pendidik, dan penguatan pendidikan karakter di tengah ekspansi teknologi digital.
Udin juga menggarisbawahi peran mahasiswa sebagai mitra kritis dan penyokong kebijakan, bukan sekadar elemen aspiratif. Ia meminta mahasiswa hadir dalam ruang-ruang diskusi strategis dan berkontribusi dengan gagasan solutif. Kepala Disdikbud melalui pesannya mengapresiasi PMII Kuningan dan menempatkan organisasi mahasiswa sebagai mitra strategis. Dengan arah kebijakan terukur, inovasi berkelanjutan, dan sinergi lintas sektor, Disdikbud Kuningan menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai jalur akademik, tetapi mesin percepatan kemandirian dan daya saing daerah.