
Guna menguji kejanggalan tersebut, tim wartawan melakukan penelusuran dan investigasi ke sejumlah dapur SPPG di wilayah Kecamatan Banjarsari. Langkah ini diambil untuk mendapatkan klarifikasi sekaligus membandingkan kesetaraan harga nasi antardapur.
Fakta Lapangan: Hitungan Beras dan Gramasi di 4 Dapur SPPG
Dari hasil penelusuran di lapangan, ditemukan formula hitungan, gramasi, serta kebijakan pencantuman harga yang berbeda-beda di setiap dapur:
1. SPPG Lentera Ratawangi
Kepala SPPG Lentera Ratawangi, Riad Adul Wasi, membeberkan bahwa dapurnya menghabiskan 125 kg beras per hari dengan harga beli bahan baku Rp 14.000/kg. Beras tersebut dialokasikan untuk: Porsi Besar: 864 KPM (Kelompok Penerima Manfaat) x 150 gram.
Porsi Kecil: 1.115 KPM x 120 gram.
Namun, saat dicecar pertanyaan mengenai alasan mengapa pihak dapur tidak mencantumkan harga pada menu, Riad tidak memberikan jawaban pasti.
2. SPPG Yayasan Asnal Muntholib Ratawangi
Investigasi berlanjut ke lokasi kedua. Meski Kepala SPPG, Faoji Ramansah, sedang tidak berada di tempat, ia berhasil dikonfirmasi via pesan singkat WhatsApp. Faoji membagikan data rinci mengenai biaya riil nasi di dapurnya:
Porsi Kecil (100 gram): Seharga Rp 745.
Porsi Besar (180 gram): Seharga Rp 1.341.
”Total Penerima Manfaat seluruhnya ada 2.765, dengan rincian porsi besar sebanyak 1.565. Konsumsi beras harian berkisar antara 115 kg hingga 170 kg dengan harga belanja Rp 14.000 per kilogram,” ungkap Faoji.
3. SPPG Kawasen 2 (Desa Kawasen)
Ditemui secara terpisah, Kepala SPPG Kawasen 2, Azi, menyebutkan bahwa lembaganya menyuplai 1.479 KPM (620 porsi besar dan 859 porsi kecil). Dapur ini menghabiskan 90 kg beras per hari dengan harga beli lebih miring, yaitu Rp 13.500/kg.
Gramasi: Porsi kecil 120 gram dan porsi besar 150 gram.
Harga Rata-rata Nasi: Dipatok di angka Rp 1.500.
4. SPPG Banjarsari Sindangsari (Yayasan Hikmah Anawawi)
Di lokasi keempat, tercatat total penerima manfaat sebanyak 1.910 KPM, dengan rincian 1.432 porsi besar dan 478 porsi kecil. Dapur ini menghabiskan 115 kg beras per harinya.
Kesimpulan Sementara: Dapur Kawasen 1 Jadi yang Termahal
Jika mengacu pada perbandingan di atas—terutama dari data SPPG Kawasen 2 yang menetapkan rata-rata Rp 1.500 dan SPPG Asnal Muntholib yang hanya berkisar Rp 745 hingga Rp 1.341—maka nominal Rp 2.900 per porsi di SPPG Kawasen 1 mutlak menjadi yang tertinggi. Selisih harga yang cukup mencolok ini semakin memperkuat tanda tanya di tengah masyarakat.
Korcam Angkat Bicara Soal Aturan Aturan Nominal Harga
Menanggapi polemik yang menggelinding, Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG wilayah Banjarsari, Sikun, yang juga menjabat sebagai salah satu kepala SPPG, memberikan klarifikasi penting.
Menurut Sikun, dari regulasi pusat sebenarnya tidak ada kewajiban baku untuk memajang nominal rupiah pada wadah makanan harian.
”Pencantuman nominal harga di dalam per ompreng itu sebenarnya tidak ada instruksi dari pihak BGN (Badan Gizi Nasional). Kecuali, waktu itu saat penyediaan menu keringan saja,” jelas Sikun menutup keterangan.
Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu kejelasan mengenai dasar penentuan tarif Rp 2.900 di SPPG Kawasen 1, apakah murni karena faktor teknis eksternal atau ada indikasi lain di luar prosedur standar.
(tim/red)