
Banjir dengan intensitas tinggi saat itu menggerus bagian tepi jalan dan konstruksi penyangga hingga menyebabkan jembatan permanen tidak dapat digunakan. Akses kendaraan roda empat sempat terputus total, sehingga aktivitas dan mobilitas masyarakat di dua desa ikut terganggu.
Masyarakat kemudian berinisiatif membuat akses darurat agar kendaraan tetap dapat melintas. Meski roda empat kini sudah bisa melewati jalur tersebut, kondisi jembatan darurat dinilai jauh dari ideal dan menyimpan risiko keselamatan, terutama ketika hujan deras kembali mengguyur wilayah tersebut.
Kepala Desa Wonoboyo membenarkan bahwa jembatan tersebut merupakan jalur penghubung utama sekaligus akses penting bagi masyarakat.
“Memang benar jika jembatan penghubung dari Desa Leprak menuju Desa Wonoboyo adalah satu-satunya jembatan penghubung. Jembatan ludes diterjang banjir pada Februari 2026 lalu. Kini memang belum ada perbaikan dan memang harus segera diperbarui,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran jelas bahwa persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur biasa. Jembatan tersebut merupakan urat nadi masyarakat, yang digunakan untuk mengakses sekolah, pasar, fasilitas pelayanan publik hingga pusat Kecamatan Klabang.
Enam Bulan Berlalu, Mengapa Masih Darurat?
Yang menjadi sorotan adalah lamanya waktu penanganan. Sejak bencana terjadi pada Februari hingga 28 Agustus 2026, hampir enam bulan telah berlalu, tetapi masyarakat masih harus bertahan dengan akses darurat.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar: sampai kapan masyarakat harus mempertaruhkan keselamatan mereka melewati jembatan darurat?
Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya melihat persoalan ini sebagai dampak bencana yang sudah berlalu, tetapi sebagai persoalan infrastruktur yang menyangkut keselamatan dan keberlangsungan aktivitas warga setiap hari.
Jika kembali terjadi hujan deras dan banjir, bukan tidak mungkin akses darurat tersebut kembali rusak bahkan hanyut. Bila itu terjadi, masyarakat dua desa berpotensi kembali terisolasi dan roda perekonomian serta aktivitas sosial dapat lumpuh.
Warga Minta Pemkab Bergerak Nyata
Salah seorang warga meminta Pemerintah Kabupaten Bondowoso segera mengambil langkah konkret untuk membangun kembali jembatan permanen.
“Kami minta Pemkab Bondowoso segera membangun jembatan permanen. Ini akses vital, kalau putus semua aktivitas warga terganggu,” katanya.
Kini perhatian publik tertuju kepada Pemkab Bondowoso. Masyarakat tidak membutuhkan sekadar janji atau wacana, tetapi membutuhkan langkah nyata berupa perencanaan, penganggaran dan pembangunan jembatan permanen yang aman serta layak digunakan.
Hampir enam bulan adalah waktu yang cukup panjang untuk sebuah akses vital yang masih berstatus darurat. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah terjadi korban atau jembatan darurat kembali hanyut diterjang banjir.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso diharapkan segera turun ke lapangan, memastikan kondisi terkini, menentukan langkah penanganan dan merealisasikan pembangunan jembatan permanen. Keselamatan warga dan kelancaran akses masyarakat semestinya tidak boleh menunggu sampai bencana berikutnya datang.
(tim/red)