
Pembangunan tahap VII berupa jembatan beton cor sepanjang 18 meter dan lebar 3 meter tersebut dikerjakan melalui program Kodim 0824/Jember dengan melibatkan TNI, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat. Warga menyambut pembangunan itu dengan sukacita karena jembatan tersebut menghubungkan Dusun Plalangan dengan Dusun Perasian yang sebelumnya terputus akibat bencana.
Dampak putusnya jembatan bukan perkara kecil. Sejak akhir 2025, petani harus menempuh jalur memutar ketika membawa hasil panen, sedangkan anak-anak sekolah dan warga yang membutuhkan akses menuju balai desa, puskesmas, maupun pasar harus menghadapi perjalanan lebih jauh. Kondisi tersebut membuat jembatan menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat.
Kepala Dusun Plalangan, Maqbul, mengungkapkan bahwa warga sempat membangun jembatan darurat dari bambu secara gotong royong. Namun, konstruksi tersebut hanya dapat dilalui sepeda motor dan memiliki risiko keselamatan. “Warga terpaksa bergotong royong membuat jembatan darurat karena akses utama terputus,” ujar Maqbul, Minggu (25/10/2026).
Karya bakti pembangunan jembatan tersebut turut dihadiri Camat Pakusari Muhammad Sifak Beni Kurniawan, S.STP., M.M., Danpos Peltu Eka Staria Wibawa, serta Kepala Desa Jatian Dewi Nova Wahyuni, S.S.T., M.Kes. Kehadiran unsur pemerintah dan TNI bersama warga memperlihatkan kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pemulihan akses masyarakat pascabencana.
Ketua RT 02/RW 011 Dusun Plalangan, Muktar, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya Babinsa yang terus mengawal proses pembangunan. “Terima kasih kepada Pak Babinsa, Komandan Kodim 0824/Jember Letkol Inf Rifqi Muhammad Syuhada, serta Presiden Prabowo Subianto melalui program pembangunan Jembatan Perintis Garuda tahun anggaran 2026,” kata Muktar dengan haru.
Babinsa Desa Jatian Sertu Abdul Aziz mengatakan keterlibatan TNI ditujukan untuk mempercepat pemulihan infrastruktur sekaligus membantu mengembalikan aktivitas masyarakat. “Peran TNI adalah menjembatani kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat, mulai dari koordinasi lintas sektor, sosialisasi, hingga pengawasan dan pendampingan di lapangan,” ujarnya. Bagi warga Plalangan, jembatan ini bukan sekadar beton yang menghubungkan dua dusun, melainkan jalan pulang menuju aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan masyarakat yang sempat terputus hampir setahun. (tim/red)