
Agung menegaskan bahwa mahasiswa dan masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan kritik serta tuntutan kepada pemerintah maupun lembaga negara. Namun, kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab. Menurutnya, jangan sampai aspirasi yang awalnya murni justru berubah menjadi tindakan anarkis yang dapat merugikan masyarakat dan mencederai nilai-nilai demokrasi.
Ia juga mengajak seluruh peserta aksi untuk tidak menjadikan aparat keamanan sebagai sasaran kemarahan. Polisi, TNI, maupun Satpol PP, kata Agung, merupakan bagian dari masyarakat yang juga memiliki keluarga dan saudara. Mereka berada di lapangan untuk menjalankan tugas menjaga keamanan serta ketertiban.
“Kita semua saudara. Mahasiswa, masyarakat, polisi, TNI, dan Satpol PP sama-sama anak bangsa. Jangan melakukan kekerasan kepada aparat. Perbedaan pendapat jangan berubah menjadi permusuhan,” ujarnya.
Agung berharap seluruh pihak mampu menahan diri dan mengutamakan komunikasi apabila terjadi perbedaan atau ketegangan di lapangan. Ia menilai aksi demonstrasi yang berlangsung damai justru akan membuat pesan dan tuntutan para peserta lebih mudah didengar serta mendapatkan perhatian serius dari para pemangku kebijakan.
Pimpinan Redaksi SBI tersebut menutup pernyataannya dengan mengajak mahasiswa, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa menjaga Jakarta tetap kondusif. “Suara rakyat harus didengar, tetapi jangan sampai suara itu disertai kekerasan. Sampaikan aspirasi dengan keberanian, jaga persaudaraan, dan jangan biarkan perbedaan kepentingan memecah persatuan,” pungkas Agung.
(tim/red)