Kantor Bareskrim Polri Palsu Terbongkar di Kamboja, Sindikat Scam Menyamar Jadi Aparat

Kantor Bareskrim Polri Palsu Terbongkar di Kamboja, Sindikat Scam Menyamar Jadi Aparat 1ODDAR MEANCHEY , kabarSBI.com – Kompleks penipuan lintas negara di kawasan O’Smach, perbatasan Thailand–Kamboja, terbongkar setelah aparat setempat menemukan kantor Bareskrim Polri palsu yang digunakan sindikat scam internasional. Temuan mengejutkan ini terjadi pada Senin (2/2/2026) saat pengamanan lokasi yang diduga kuat menjadi pusat kejahatan siber berskala global.
Kantor Bareskrim Polri Palsu Terbongkar di Kamboja, Sindikat Scam Menyamar Jadi Aparat 2Di dalam kompleks tersebut, aparat menemukan sejumlah ruangan yang dibuat menyerupai kantor polisi dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, Singapura, China, India, Vietnam, hingga Australia. Penyamaran ini digunakan untuk meyakinkan korban agar percaya bahwa mereka sedang berhadapan dengan aparat penegak hukum resmi.
Selain ruangan palsu, petugas juga menyita lebih dari 800 kartu SIM, serta dokumen penting berupa daftar target korban, kontak korban, hingga skrip penipuan. Modus yang digunakan adalah menyamar sebagai aparat hukum, lalu menekan korban dengan ancaman hukum palsu agar mentransfer uang.
Pengungkapan ini tak lepas dari tekanan keras Pemerintah China terhadap Kamboja. Dalam kurun tujuh bulan terakhir, pemerintah Kamboja telah menangkap 5.106 tersangka penipuan online yang berasal dari 23 negara, termasuk warga negara Indonesia. Para pekerja scam diketahui ditugaskan menargetkan korban dari negara asal masing-masing, sehingga penipuan terasa lebih meyakinkan secara bahasa dan budaya.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI mencatat masih ada 2.887 WNI eks pekerja scam yang menunggu proses pemulangan ke Indonesia. Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, menegaskan bahwa berdasarkan hasil penilaian awal, para WNI tersebut tidak terindikasi sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
“Berdasarkan early assessment dari KBRI, tidak ada WNI yang terindikasi sebagai korban TPPO. Tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan fisik,” ujar Santo.
Kasus ini kembali membuka mata publik bahwa kejahatan penipuan digital kini semakin canggih, bahkan berani meniru simbol dan institusi resmi negara untuk memperdaya korban lintas batas.