
Korban terdiri atas sepasang suami istri, Kumis Kogoya dan istrinya, serta seorang perempuan dari Suku Unaukam. Identitas lengkap korban perempuan masih dalam penyelidikan aparat.
Insiden ini bukan kasus tunggal. Sejak lama, warga sipil di Papua kerap terjebak di tengah konflik antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata. Tuduhan sebagai “agen intelijen” sering menjadi alasan kelompok OPM melakukan tindakan represif terhadap masyarakat biasa.
Bagi keluarga Kogoya, tragedi ini bukan sekadar luka fisik, melainkan trauma sosial yang mendalam.
“Kami hanya ingin hidup tenang, tapi selalu dicurigai,” ujar seorang kerabat korban dengan suara bergetar.
Aparat keamanan menyatakan sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut. Fokus utama adalah memastikan keselamatan warga sipil dan menjaga akses jalan tetap aman. Namun, di lapangan, rasa takut masih menyelimuti masyarakat.
Yahukimo adalah wilayah dengan keragaman suku dan adat yang kuat. Kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada jalur Trans Seradala sebagai akses ekonomi dan sosial. Ketika jalur ini terganggu oleh kekerasan, dampaknya bukan hanya pada korban langsung, tetapi juga pada aktivitas harian warga.
OPM, yang menolak integrasi Papua ke dalam NKRI, telah lama menjadi aktor utama dalam konflik bersenjata di wilayah ini. Aksi mereka menimbulkan banyak korban jiwa dan pelanggaran hak asasi manusia. Bagi masyarakat sipil, konflik ini adalah warisan pahit yang terus berulang dari generasi ke generasi.
Di balik angka dan laporan resmi, ada wajah-wajah manusia yang terluka. Kumis Kogoya dan istrinya hanyalah pasangan biasa yang ingin hidup damai. Perempuan dari Suku Unaukam hanyalah warga yang berusaha bertahan di tengah kerasnya kehidupan pegunungan Papua.
Mereka adalah simbol dari ribuan warga sipil yang menjadi korban konflik berkepanjangan.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini menekankan sisi human interest dengan menampilkan korban sebagai pusat narasi, sekaligus memberi konteks sosial budaya yang lebih luas. Kekerasan di Papua bukan sekadar peristiwa, melainkan bagian dari luka panjang bangsa yang belum sembuh.