
Di Dusun Cireja, Desa Cihideung Hilir, Kecamatan Cidahu, makanan yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Baitul Izzah Qur’an dilaporkan tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi. Pada distribusi Senin, 6 April 2026, balita penerima program justru mendapatkan buah jeruk dalam kondisi busuk.
Kepala dapur SPPG, Deden, mengakui adanya kejadian tersebut dan menyatakan telah dilakukan penggantian. Namun, ia menegaskan bahwa dapur hanya bertugas mengolah dan menyalurkan, sementara bahan baku berasal dari pemasok yang berada di bawah yayasan pengelola.
Pernyataan ini justru mempertegas adanya rantai tanggung jawab yang belum jelas, sekaligus membuka dugaan lemahnya kontrol kualitas dari hulu hingga hilir.
Di tengah anggaran yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp13.000 per porsi — termasuk Rp8.000 untuk bahan makanan — masyarakat mempertanyakan bagaimana bahan pangan tidak layak masih bisa lolos distribusi kepada balita.
Kekecewaan warga semakin memuncak. Dalam diskusi antar orang tua penerima manfaat, muncul wacana agar program MBG dialihkan menjadi bantuan tunai karena makanan yang diterima kerap tidak dikonsumsi dan berakhir terbuang.
Camat setempat selaku Satgas MBG juga mengakui bahwa pihaknya telah berulang kali menerima keluhan serupa. Ia menegaskan bahwa pengelola dapur telah berkali-kali diingatkan untuk mematuhi standar yang telah ditetapkan.
“Ini bukan kejadian pertama. Harus ada pembenahan serius,” ujarnya.
Selain kualitas makanan, aspek pengemasan turut menjadi sorotan. Meski terdapat alokasi biaya fasilitas, distribusi makanan masih menggunakan kantong plastik dan pembungkus sederhana. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan pertanyaan soal standar higienitas, tetapi juga berpotensi menambah beban limbah rumah tangga.
Rangkaian persoalan ini memperkuat desakan masyarakat agar dilakukan audit menyeluruh dan evaluasi independen terhadap pengelolaan SPPG Yayasan Baitul Izzah Qur’an. Tanpa pengawasan ketat, program strategis nasional seperti MBG berisiko kehilangan tujuan utamanya: meningkatkan gizi dan masa depan generasi muda.
(tim/red)