Mutu Pelayanan RSUP Prof.DR.R.D.Kandau Manado Terus Ditingkatkan

Headline, Metropolitan1653 Dilihat
Mutu Pelayanan RSUP Prof.DR.R.D.Kandau Manado Terus Ditingkatkan 1
Dari kiri ke kanan Jimmy Panelewen (Direktur Utama) RSUP Kandou Malalayang Manado, DR.Nila Djuwita, A.Moeloek,Sp.M(K). Menteri Kesehatan.DR.Dr.Ivonne.E.Rotty,M.Kes Direktur SDM dan Pendidikan R.S.Prof.DR,R.D.Kandou Malalayang Manado. (dok)

MANADO,kabarSBI.com – Rumah Sakit Umum Pusat Prof.DR.R.D.Kandou Manado dibawah kepemimpinan DR.Dr.Jimmy Panelewen,Sp.B-KBD dan Direktur Utama Prof.DR.R.D.Kandou Malalayang Manado kini telah memperoleh acreditasi type A. Rumah sakit ini berfungsi sebagai Rumah Sakit rujukan sejak Dr.Maxi Rondonuwu menjabat sebagai Dirut sebelumnya.

Kepala Unit Tranfusi Darah RSUP Kandau Manado, Dr.Neila bersama wakilnya Yowel Tomasthola mengaku bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan kwalitas mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.Hal ini, kata dia, sesuai dengan standard acreditasi dan fungsi yang diembannya.

Dijelaskannya, dalam melaksanakan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) sesuai bidang tugas masing-masing. Semua pihak RSUP komitmen untuk meningkatkan kwalitas mutu pelayanan Rumah Sakit tersebut, yang mendasar pada PERMENKES R.I.(Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia) Nomor 69 tahun 2013 tentang standard tarif pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

Dalam Permenkes itu disebutkan penyelenggaraan program jaminan kesehatan pada bait 9 mengenai tarif pelayanan kesehatan lainnya difasilitas kesehatan tingkat pertama huruf A angka 1 disebutkan bahwa tarif darah disesuikan dengan tarif yang diatur dimasing-masing daerah,m aximal Rp.360.000/kantong (bag).

Kepala Unit Tranfusi Darah RSUP Kandau Manado, Dr.Neila bersama wakilnya Yowel Tomasthola menjelaskan implementasi peraturan tersebut pihaknya berkoordinasi dengan manajement rumah sakit hingga tahapan proses pelaksanaan tugas berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Adapun tahapan proses pelaksanaan tugas di Unit Tranfusi Darah tersebut yaitu :

I. Melakukan uji laboratorium bagi pendonor darah yang dengan sukarela menyumbangkan darahnya guna menolong sesama yang membutuhkan. Uji laboratorium ini dilakukan melalui alat kesehatan yaitu reagensia yang berfungsi mendeteksi kondisi fisik pendonor saat hendak mendonorkan darahnya hingga dapat diketahui kondisi fisik dan darah dari pendonor tidak mengandung 4 (empat)penyakit menular yaitu : 1. HIV 2. Hepatitis B 3. Hepatitis C 4. Sipilis

II. Darah yang diperoleh dari pendonor yang telah melalui uji laboratorium dimasukan kekantong darah yang mengandung cairan koagulan yang berfungsi menjaga dan memelihara sel darah tersebut agar tetap hidup saat berada diluar tubuh manusia.

III. Menyimpan dalam lemari pendingin khusus untuk menjaga komponen darah tersebut yang terdiri dari : (A). Sel darah merah dengan suhu 4 plus 2 hingga 6 derajat celcius (B). Plasma segar beku dengan suhu 30 derajat celcius. (C). Trombosit dengan suhu 20 hingga 24 derajat celcius

IV.Batas waktu penyimpanan darah ditetapkan sebagai berikut: (A). Sel darah merah maximal 01 (satu) bulan (B). Plasma segar beku maximal 01 (satu) tahun. (C). Trombosit maximal 05 (lima) hari.

V. Melalui instalasi gisi disediakan menu untuk dikonsumsi para pendonor
hanya sekali disaat selesai melaksanakan donor darah.

Diakhir perbincangannya Yowel Tomasthola kepada wartawan kabarsbi.com menambahkan, manfaat positif yang diperoleh para pendonor darah. Manfaatnya antara lain yaitu mencegah penyakit cancer dan berguna dalam memelihara fungsi hati.

“Proses regenerasi darah dalam tubuh manusia terjadi secara alami setiap saat, termasuk saat donor darah selesai dilaksanakan. Karenanya dihapkan kiranya warga masyarakat yang rela mendonorkan darahnya makin termotivasi melaksanakan tugas kemanusiaan yang mulia ini,” jelasnya.

“Selain itu ketersediaan darah dapat tercukupi untuk ditransfusikan bagi sesama kita yang membutuhkan,” tambahnya.

Disampaikan Yowel, pihaknya berharap jaringan penyedia darah antar instansi Rumah Sakit yang memiliki Unit Transfusi Darah termasuk Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai mitra kerjanya dapat segera terbentuk. (rondon/r/as)