oleh

Pakai Batik Yogyakarta di Acara G20, Menkes RI Candai Direktur WHO

Pakai Batik Yogyakarta di Acara G20, Menkes RI Candai Direktur WHO 1kabarSBI.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memuji dan mencandai Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus yang memakai batik berwarna coklat dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam agenda 1st G20 Health Ministerial Meeting and 1st G20 Joint Finance and Health Ministerial Meeting.

“Saya percaya semua orang yang ada di ruangan ini dan yang memantau acara secara daring setuju dengan saya, bahwa Anda terlihat lebih muda dan lebih sehat dengan kemeja batik cantik dari Yogyakarta,” kata Budi dalam acara yang disiarkan kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI, pada Senin (20/06/22).

Pujian tersebut disambut dengan tertawa oleh Tedros. Petinggi WHO itu sekaligus menyampaikan sejumlah sorotan terkait kondisi dan penanganan pandemi Covid-19 baik di Indonesia maupun secara global.

Tedros memahami banyak negara yang sudah merelaksasi dan bahkan mencabut kebijakan protokol kesehatan Covid-19 mulai tes PCR di pintu masuk, masa karantina, dan kebijakan di sektor non kesehatan lainnya. Namun ia mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 belum benar-benar selesai.

“Tentu saja ada progres, tetapi persepsi bahwa pandemi sudah selesai juga dapat dipahami namun sesat. Transmisi kembali meningkat di banyak negara termasuk di sejumlah daerah Anda (Indonesia),” ujar Tedros.

Tedros lantas mewanti-wanti Indonesia dan negara lain untuk memperkuat pemeriksaan Covid-19 dan juga Whole Genome Sequencing (WGS). Ia mewanti-wanti bahwa kondisi Covid-19 di lapangan sangat tergantung dari jumlah pemeriksaan yang dilakukan masing-masing negara.

“Penularan sedang meningkat di banyak negara, termasuk negara beberapa dari anda (delegasi peserta G20) ini tak terlepas dari kenyataan bahwa pengujian dan pengurutan (genome) telah menurun tajam,” kata Tedros dalam rapat Menkes Negara G20 di Yogyakarta.

Tingkat pengujian dan pengurutan untuk pelacakan virus ini, menurut Tedros, menurun secara signifikan di seluruh dunia.

“Dan 40 persen dari populasi dunia masih belum tervaksinasi. Sementara risiko kemunculan varian virus baru dan lebih berbahaya tetap tak bisa dipungkiri. WHO sangat khawatir bahwa kurangnya pengujian dan pengurutan ini membutakan kita terhadap evolusi virus,” lanjutnya.(red)

Kabar Terbaru