
JAKARTA, kabarSBI.com – Pasar Hexagon di Jakarta Utara tengah disiapkan untuk kembali hidup dan berkembang menjadi destinasi budaya baru. Kawasan yang memiliki karakter bangunan unik tersebut tidak lagi dipandang semata sebagai tempat berjualan, tetapi diarahkan menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, seni budaya, kuliner, UMKM, dan pariwisata.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Utara, Dya Perwita Kusuma menjelaskan, gagasan menghidupkan kembali Pasar Hexagon di kawasan Sunda Kelapa, Penjaringan, wilayah maritim Jakarta Utara berangkat dari potensi besar yang dimiliki keunikan bangunan bersejarah tersebut.
“Pasar Hexagon ini memiliki bangunan yang luar biasa uniknya. Ini aset yang belum tentu semua pemerintah daerah punya. Tapi di sisi lain, ruang publiknya masih kosong karena itu kami ingin mengaktifkannya melalui kegiatan ekspresi seni budaya sekaligus ekonomi budaya,” jelas Dya sapaan akrabnya, dikutip situs resmi Pemkot Jakarta Utara, Jumat, 14/8/2026.
Lebih lanjut, menurutnya, Pasar Hexagon tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sebuah pasar. Dengan karakter bangunan dan lokasinya, kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi budaya baru di Jakarta Utara.
Pengembangan itu pun tidak dilakukan sendiri. Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta berkolaborasi dengan Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta berbagai pihak untuk membangun ekosistem kawasan secara bertahap.
“Ini gotong royong. Kami ingin mengembangkan Pasar Hexagon sebagai destinasi budaya baru yang bisa dinikmati masyarakat sekitar maupun wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” katanya.
Kedepan, kata Dya, Pasar Hexagon diharapkan menjadi bagian dari jalur wisata kawasan pesisir Jakarta Utara. Wisatawan dapat menyusuri kawasan Kota Tua, kemudian menuju Museum Bahari dan Masjid Luar Batang, sebelum beristirahat dan menikmati kuliner Nusantara di Pasar Hexagon. Konsep tersebut sekaligus menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional dari berbagai daerah Indonesia.
“Di sini ada makanan khas Betawi, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Jadi kuliner-kuliner ini sebenarnya punya fungsi untuk melestarikan makanan tradisional,” ujar Dya.
Menariknya, sejumlah kuliner yang mulai langka juga akan diperkenalkan. Salah satunya burdong, kuliner Betawi yang kini semakin jarang ditemui.
“Bahkan ada kuliner Betawi yang sudah hampir punah, seperti burdong. Jadi ini bukan sekadar jualan makanan, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional,” ungkapnya.
Tidak hanya soal kuliner dan UMKM, Pasar Hexagon juga akan menjadi panggung bagi para seniman. Sejak sore hari, pengunjung akan disuguhi pertunjukan seni budaya yang dikemas dari tradisional hingga modern. Gambang kromong, ngebuleng, sendratari, pertunjukan musik, teater, musikal puisi, workshop, perlombaan, bodoran, hingga dangdut akan mengisi panggung ampiteater.
Bahkan, sebanyak 50 penari akan tampil dalam pertunjukan sendratari setelah salat Magrib pada malam pembukaan.
“Kami ingin mengantarkan pengunjung dari tradisi ke modern. Jadi seni budaya akan berlangsung nonstop. Konsep tersebut diharapkan memberikan ruang yang lebih luas bagi para seniman untuk berekspresi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi mereka,” tuturnya.
Dya berharap, keberadaan ruang kreatif seperti Pasar Hexagon dapat menjadi titik awal bagi para seniman untuk tumbuh mandiri.
“Harapan saya, seniman kami bisa hidup dari situ. Mereka punya wahana untuk berekspresi dan lama-lama bisa mandiri,” ucapnya.
Namun, keramaian selama dua hari tersebut bukanlah tujuan akhir. Dya menegaskan, kegiatan ini merupakan pemantik untuk menghidupkan kembali Pasar Hexagon secara berkelanjutan. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara juga tengah mendorong pembahasan bersama PD Pasar Jaya dan pihak terkait untuk menentukan pola pengembangan kawasan setelah kegiatan perdana tersebut.
“Perlahan akan mengarah kepada perbaikan seluruh infrastrukturnya,” katanya.
Kedepan, peluang kolaborasi dengan berbagai pihak juga akan dikembangkan, sehingga Pasar Hexagon tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi tumbuh sebagai ruang bertemunya sejarah, budaya, kreativitas, kuliner, UMKM, dan wisata.
Dari bangunan bersejarah yang sempat sunyi, Pasar Hexagon kini tengah disiapkan untuk kembali memiliki denyut kehidupan.
“Ini nantinya bukan sekadar pasar. Tetapi sebuah ruang interaksi dimana sejarah dapat bercerita, seniman berkarya, UMKM tumbuh, dan masyarakat menemukan kembali wajah baru Jakarta Utara,” tutupnya.
Sejarah singkat Pasar Hexagon
Pasar Hexagon dari sumber yang dapat ditelusuri berada di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, tidak jauh dari Museum Bahari, Menara Syahbandar, dan kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Kawasan ini merupakan bagian penting dari sejarah perdagangan dan aktivitas maritim Batavia.
Bangunan Pasar Hexagon disebut dibangun sekitar tahun 1920. Nama “Hexagon” merujuk pada bentuk bangunannya yang memiliki bagian-bagian berbentuk segi enam. Bangunan tersebut memiliki karakter arsitektur yang khas dan dikaitkan dengan gaya Indische/eklektik. Sumber menyebutkan bahwa bangunan ini pada awalnya berkaitan dengan aktivitas pasar ikan.
Yang menarik, Pasar Hexagon bukan sekadar bangunan pasar biasa. Pada masa lalu, kawasan Pasar Ikan menjadi bagian dari aktivitas perdagangan dan pelelangan ikan di kawasan pesisir Batavia. Aktivitas tersebut berkaitan erat dengan keberadaan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai pusat perdagangan maritim.
Nama Pasar Hexagon kemudian dikukuhkan sebagai nama bangunan dalam penetapan bangunan bersejarah/cagar budaya melalui SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah di DKI Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya. Hal ini juga disebut dalam kajian Institut Pariwisata Trisakti mengenai kawasan tersebut.
Dalam perkembangannya, kawasan Pasar Hexagon sempat mengalami kondisi tidak terawat. Namun, bangunan tersebut kemudian direvitalisasi. Pada 2024, Perumda Pasar Jaya menyelesaikan pembangunan kembali/revitalisasi Pasar Hexagon, dan pemerintah kemudian mendorong agar kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pasar, tetapi juga menjadi destinasi wisata dan budaya.
(min/r/as)

