Oleh: Agung Sulistio
JAKARTA, kabarSBI.com – Pemimpin Redaksi KabarSBI.com Ketegangan geopolitik global memasuki fase baru yang semakin memprihatinkan. Beberapa negara besar saling menaruh curiga, sementara dinamika di kawasan Arktik, Eropa, hingga Atlantik Utara menunjukkan intensitas manuver yang meningkat. Sejumlah pengamat menilai, situasi ini menandai munculnya pola baru rivalitas kekuatan dunia yang menyerupai Perang Dingin, bahkan memunculkan kekhawatiran akan potensi konflik berskala lebih luas.
Salah satu isu yang kembali mencuat adalah posisi strategis Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark.
Dalam beberapa tahun terakhir, Greenland menjadi titik sorotan dalam perebutan pengaruh di kawasan Arktik. Para analis memandang bahwa setiap langkah negara besar terhadap wilayah tersebut harus tunduk pada prinsip kedaulatan negara sebagaimana diatur dalam Piagam PBB Pasal 2(4) serta kerangka hukum Denmark.
Di Eropa, berbagai negara mulai menunjukkan sikap lebih tegas terhadap potensi tindakan unilateralis yang dinilai dapat mengganggu stabilitas kawasan. Pemerintah Denmark, misalnya, menegaskan bahwa setiap upaya eksternal yang berpotensi mengubah status Greenland harus mengikuti koridor hukum internasional. Penguatan pertahanan Denmark di wilayah utara dipandang sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika geopolitik Arktik yang semakin kompleks.
Sementara itu, ketegangan antara Amerika Serikat, Rusia, dan China juga masih terus berlanjut. Manuver militer di sejumlah kawasan perairan internasional memunculkan reaksi keras dari berbagai negara. Di bawah kerangka United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), setiap tindakan yang menyangkut penahanan atau pemeriksaan kapal negara lain di perairan internasional harus mengikuti prosedur hukum yang ketat. Negara-negara seperti Rusia dan China beberapa kali menyampaikan keprihatinan atas tindakan yang dinilai melewati batas ketentuan tersebut.
Di tengah naiknya dinamika keamanan global, sejumlah pesawat tempur milik berbagai negara makin sering melakukan patroli di wilayah sensitif. Para pengamat memperingatkan bahwa intensitas manuver tersebut meningkatkan risiko salah kalkulasi (miscalculation) yang dapat memicu insiden lebih besar. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa konflik global kerap bermula dari ketegangan kecil yang berkembang menjadi pertikaian terbuka.
Di Eropa, kekhawatiran makin terasa seiring konflik berkepanjangan di Ukraina. Meskipun Ukraina bukan anggota NATO, setiap eskalasi yang menyerempet negara anggota berpotensi mengaktifkan mekanisme pertahanan kolektif sebagaimana diatur dalam NATO Treaty Pasal 5. Sejumlah negara seperti Belanda meningkatkan kesiagaan pertahanan sipil, termasuk aktivasi sistem peringatan dini sebagai bagian dari protokol keamanan nasional.
Jerman, sebagai kekuatan ekonomi dan politik utama Uni Eropa, berada pada posisi strategis dalam dinamika ini. Berlin kerap menjadi pusat pertemuan para pemimpin Eropa untuk membahas keamanan kawasan. Meski situasi domestik relatif stabil, Jerman tetap menjadi salah satu titik tumpu dalam upaya Eropa menjaga keseimbangan antara diplomasi dan kesiapsiagaan pertahanan.
Sejumlah analis menilai, dunia membutuhkan pendekatan diplomasi yang lebih solid untuk meredakan ketegangan antarnegara besar. Penghormatan terhadap kedaulatan, penyelesaian sengketa melalui jalur damai, dan penguatan sistem multilateral kembali menjadi sorotan utama. Tanpa upaya meredakan arogansi geopolitik dan tindakan unilateral dari pihak mana pun, krisis global yang lebih besar dapat menjadi ancaman yang bukan lagi bersifat teoritis.
(red)




