
Dari keterangan yang dihimpun di lapangan, sejumlah siswa mengalami luka parah akibat benturan langsung dengan kendaraan tersebut. Situasi mencekam terjadi saat beberapa siswa terpental dan tergeletak tidak berdaya. Pada pukul 07.10 WIB, pihak sekolah bergerak cepat mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis segera.
Dua korban pertama yang mendapatkan penanganan di Puskesmas Cilincing II adalah Aditya Pradipta (Kelas 3C) dan Maulana Aufar (Kelas 5B). Keduanya mengalami cedera yang memerlukan observasi cepat dari tim medis. Sementara itu, para korban lain yang mengalami luka lebih berat langsung dirujuk ke RSUD Cilincing untuk perawatan lanjutan.
Korban yang saat ini ditangani di RSUD Cilincing meliputi: Salsabila (3C), Ahmad Faizan (2C), Bagus (1B), Khanza (3D), Dian (3B), Anisa (3D), Surya (3D), Dita (3C), Hafiiz (3B), Weren (3B), Nabil (3D), Alvaro (3D), Lilo (4B), Rey (3C), Hafiz (1A), Yuda (3C), dan Ray Firmansyah (3C). Sejumlah dari mereka dilaporkan mengalami cedera serius pada kepala, tangan, dan tubuh bagian bawah akibat benturan keras.
Hingga berita ini dirilis, pihak kepolisian masih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait jumlah total korban maupun detail awal dugaan penyebab kecelakaan. Pemeriksaan terhadap pengemudi dan kondisi kendaraan masih berlangsung untuk memastikan apakah insiden ini terjadi akibat kelalaian, kegagalan teknis, atau pelanggaran prosedur keselamatan kendaraan MBG.
Agung Sulistio mendesak agar proses investigasi dilakukan secara transparan dan tuntas. Ia menegaskan bahwa insiden ini tidak hanya mencoreng program pemerintah, tetapi juga mengancam keselamatan anak-anak sekolah yang seharusnya dilindungi. “Keamanan siswa adalah prioritas absolut. Tidak boleh ada toleransi terhadap kelalaian sekecil apa pun,” tegasnya. Ia meminta pemerintah daerah serta pengelola program MBG segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencegah tragedi serupa terulang.
(surya/red)