
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, seluruh peserta memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat, kesehatan, serta kesempatan yang diberikan sehingga proses pendidikan dan pengesahan warga baru dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, shalawat dan penghormatan juga dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam membangun akhlak, persatuan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Tasyakuran warga baru bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi bentuk nyata ungkapan rasa syukur atas perjuangan panjang yang telah dilalui para calon warga hingga resmi menjadi bagian dari PSHT. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa ilmu pencak silat yang diperoleh harus digunakan untuk menjaga kehormatan diri, membantu sesama, serta mengabdi kepada bangsa dan negara.
Para pelatih dalam kesempatan tersebut menegaskan pentingnya menjaga ajaran luhur PSHT yang berlandaskan budi pekerti, persaudaraan tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan. Nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan utama yang menjadikan PSHT tetap eksis dan dicintai masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Jember.
Semangat persaudaraan yang tercermin dalam acara tasyakuran ini menunjukkan bahwa PSHT bukan hanya organisasi pencak silat, tetapi juga wadah pembinaan karakter, mental, dan spiritual. Melalui kebersamaan yang terus dijaga, diharapkan para warga baru mampu menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, serta membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Gunawan, selaku Kepala Biro Sahabat Bhayangkara Indonesia (SBI) Jember yang juga merupakan bagian dari keluarga besar PSHT di Jember, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tasyakuran warga baru merupakan tradisi positif yang harus terus dijaga sebagai sarana mempererat tali persaudaraan, memperkuat nilai spiritual, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam menjaga nama baik organisasi dan mengamalkan ajaran luhur Persaudaraan Setia Hati Terate di tengah kehidupan bermasyarakat.
(gnw/red)