JAKARTA, kabarSBI.com – Pimpinan Redaksi Sahabat Bhayangkara Indonesia (Kabarsbi.com), Agung Sulistio, menyampaikan wejangan mengenai hakikat kehidupan yang kerap dilupakan manusia. Dalam pernyataannya pada pukul 14:35 WIB, ia menegaskan bahwa keindahan dunia sering kali hanya terlihat menggoda sebelum dimiliki, namun menjadi biasa saja saat telah digenggam. “Terlihat indah sebelum dimiliki dan terasa biasa saja setelah didapatkan. Itulah hakikat kenikmatan dunia,” ujarnya, Sabtu 22 November 2025.
Agung menilai bahwa realita tersebut tercermin pada pola hidup sebagian besar manusia yang tak pernah berhenti mengejar harta, benda, jabatan, hingga berbagai ambisi duniawi. Segalanya tampak penting dan memukau sebelum diraih, namun ketika sudah berhasil didapatkan, pesonanya meredup. Menurutnya, kondisi ini menciptakan siklus tanpa akhir yang menguras waktu, tenaga, bahkan kesadaran, karena manusia kembali mengejar hal baru yang dianggap lebih menarik.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan bahwa sifat kenikmatan dunia sejatinya bersifat semu. Keindahannya hanya bertahan sementara, lalu menghilang ketika hasrat memenuhi keinginan berganti. “Bukan pada benda, tetapi pada keinginan yang tidak pernah selesai. Di situlah jebakan terbesarnya,” tegasnya. Ia menyebut bahwa kegelisahan manusia justru lahir dari ketidakmampuan melepaskan diri dari nafsu mengejar hal yang fana.
Wejangan tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 185 yang menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Ayat tersebut, menurut Agung, menjadi peringatan agar manusia tidak terperangkap oleh godaan dunia yang tampak memukau, namun pada dasarnya hanya bersifat sementara. “Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat ujian,” jelasnya.
Agung menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa dunia seharusnya menjadi sarana untuk berkarya dan beribadah, bukan tujuan yang merampas hati. Ia menegaskan bahwa kemuliaan hidup bukan diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari kemampuan menempatkan dunia pada porsinya. “Dunia boleh diambil, tetapi jangan sampai mengambil hati kita. Itulah kearifan yang sesungguhnya,” pungkasnya.
(red)


