Agung Sulistio, Pemimpin Redaksi yang Tangguh Tapi Luluh Saat Rindu Kedua Orang Tuanya

Agung Sulistio, Pemimpin Redaksi yang Tangguh Tapi Luluh Saat Rindu Kedua Orang Tuanya 1JAKARTA, kabarSBI.com – Agung Sulistio, Pimpinan Redaksi Sahabat Bhayangkara Indonesia (kabarsbi.com), dikenal sebagai sosok tegas dan berwibawa di dunia jurnalistik. Di balik sikapnya yang disiplin dan keteguhan prinsip yang kuat, ia adalah figur yang selalu berdiri di garis depan membela kebenaran dan menjaga marwah profesi wartawan. Karakter tangguh itu telah menjadikannya panutan bagi banyak jurnalis muda yang belajar tentang arti keberanian, kejujuran, dan dedikasi.

Namun, di balik ketegasan itu, tersimpan sisi lain dari seorang Agung Sulistio sisi lembut seorang anak yang masih menyimpan rindu mendalam kepada almarhum ayah dan ibunya. Setiap kali kenangan itu hadir, hatinya seolah kembali ke masa kecil, saat kasih sayang kedua orang tuanya masih begitu nyata. “Kadang tanpa sadar air mata ini jatuh sendiri ketika kangen sama mereka,” ujarnya dengan suara bergetar.

Bagi Agung, kedua orang tuanya bukan hanya sosok yang membesarkan, tapi juga cahaya yang menuntun setiap langkah hidupnya. Nilai-nilai kehidupan yang mereka wariskan kerja keras, keikhlasan, dan kejujuran menjadi dasar moral dalam setiap keputusan yang ia ambil. Ia percaya, di balik setiap keberhasilannya hari ini, ada doa dan restu dari kedua orang tuanya yang kini telah berpulang.

Kerinduan itu sering datang tanpa aba-aba, bahkan di tengah kesibukannya mengatur arah redaksi dan menulis berita. Dalam keheningan malam, bayangan wajah sang ayah dan ibu sering hadir, membawa ketenangan sekaligus luka rindu yang tak pernah sembuh. Meski begitu, Agung memilih untuk menjadikan rasa rindu itu sebagai kekuatan, bukan kelemahan, kekuatan untuk terus berbuat baik dan mengabdi melalui pena dan kebenaran.

Agung Sulistio membuktikan bahwa ketangguhan sejati bukan berarti tanpa air mata. Di balik sosok yang keras dan berpendirian teguh, tersimpan hati yang penuh cinta dan kerinduan kepada orang tua. Air mata yang jatuh bukan tanda rapuh, melainkan bukti cinta yang tak lekang oleh waktu, cinta seorang anak kepada dua sosok yang telah membentuk dirinya menjadi manusia seutuhnya.