CIAMIS, kabarSBI.com – Di tengah berbagai prestasi dan penghargaan yang berhasil diraih Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam beberapa tahun terakhir, masih terdapat potret lain yang mengundang pertanyaan mengenai pemerataan pembangunan di daerah tersebut.
Potret itu terlihat di wilayah Ciamis Selatan. Sejumlah warga terpaksa bergotong royong memperbaiki dan menambal jalan rusak secara swadaya demi menjaga keselamatan para pengguna jalan serta kelancaran aktivitas masyarakat sehari-hari.
Tanpa alat berat, tanpa dukungan anggaran besar, dan tanpa seremoni peresmian, warga turun langsung membawa cangkul, sekop, serta material seadanya. Mereka bekerja bukan untuk menggantikan peran pemerintah, melainkan karena kebutuhan akan akses jalan yang layak sudah tidak bisa lagi menunggu.
Bagi masyarakat pedesaan, jalan bukan sekadar hamparan aspal. Infrastruktur tersebut merupakan urat nadi perekonomian yang menghubungkan aktivitas pertanian, perdagangan, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan. Jalan yang baik akan mempercepat distribusi hasil pertanian, menekan biaya transportasi, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melintas setiap hari.
Namun realitas di sejumlah wilayah Ciamis Selatan masih menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Kerusakan jalan yang berlangsung dalam waktu cukup lama membuat masyarakat harus menghadapi berbagai risiko, mulai dari kecelakaan lalu lintas, kerusakan kendaraan, hingga terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat.
Ironisnya, kondisi tersebut muncul di tengah berbagai narasi keberhasilan pembangunan yang selama ini kerap dipublikasikan. Prestasi tentu layak mendapatkan apresiasi, namun pembangunan sejatinya tidak hanya diukur dari banyaknya penghargaan yang diraih, melainkan dari sejauh mana manfaat pembangunan tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat hingga ke pelosok daerah.
Aksi gotong royong warga ini seolah menjadi pesan tanpa pengeras suara. Sebuah kritik yang disampaikan melalui kerja nyata. Warga menunjukkan bahwa masih terdapat kebutuhan dasar masyarakat yang memerlukan perhatian lebih serius dari pemerintah daerah.
Tidak ada yang salah dengan prestasi dan penghargaan. Namun prestasi akan terasa lebih bermakna apabila diiringi dengan pemerataan pembangunan yang mampu menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah-daerah yang selama ini berada di pinggir perhatian.
Sebab keberhasilan sebuah daerah tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat di pusat pemerintahan, melainkan juga dari bagaimana masyarakat di wilayah terjauh dapat menikmati hak yang sama atas infrastruktur yang layak, aman, dan mendukung peningkatan kesejahteraan mereka.
Gotong royong yang dilakukan warga Ciamis Selatan patut diapresiasi sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat kebersamaan yang masih terjaga. Namun di sisi lain, aksi tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada angka statistik dan deretan penghargaan. Masyarakat membutuhkan bukti nyata berupa infrastruktur yang dapat digunakan dengan aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Ketika warga harus memperbaiki sendiri akses jalan yang menjadi kebutuhan publik, pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang seberapa banyak prestasi yang telah diraih pemerintah daerah, melainkan apakah hasil pembangunan telah benar-benar dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
(bno/red)




