PEMALANG, kabarSBI.com – Warga Dusun Sikentung, Kelurahan Petarukan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang akhirnya angkat suara. Setelah lebih dari empat tahun Jalan Raden Saleh Gang Kakap 2 RT 06/RW 09 rusak parah tanpa ada perbaikan, masyarakat yang geram akhirnya iuran untuk melakukan pengurukan jalan secara swadaya, 31 Oktober 2025.
Laporan terkait kondisi ini disampaikan langsung oleh warga kepada Agung Sulistio, Pimpinan Redaksi Sahabat Bhayangkara (Kabarsbi.com) sekaligus Ketua Umum Gabungan Media Online Cetak Ternama (GMOCT), pada Jumat (31/10/2025) pukul 10.15 WIB.
Kondisi jalan yang rusak berat ini telah menghambat aktivitas warga selama bertahun-tahun. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur, sedangkan di musim kemarau menimbulkan debu tebal yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga.
“Sudah empat tahun kami menunggu janji perbaikan, tapi tak ada realisasi. Akhirnya kami gotong royong sendiri. Kalau bukan kami yang bergerak, siapa lagi?” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Warga menilai bahwa Pemerintah Kabupaten Pemalang seolah menutup mata terhadap kondisi jalan lingkungan yang rusak parah. Padahal jalan ini merupakan akses utama masyarakat menuju sekolah, pasar, dan tempat kerja.
Menanggapi laporan tersebut, Agung Sulistio menyampaikan keprihatinannya sekaligus menegaskan bahwa persoalan infrastruktur semacam ini tidak seharusnya diabaikan oleh pemerintah daerah.
“Ini bukan hanya soal jalan rusak, tapi soal tanggung jawab moral dan pelayanan publik. Kalau warga sudah harus iuran memperbaiki jalan sendiri, di mana peran pemerintah yang katanya berpihak pada rakyat?” tegas Agung.
Agung juga menambahkan bahwa pihaknya akan mendorong instansi terkait agar segera meninjau dan mengambil langkah nyata memperbaiki jalan yang menjadi urat nadi masyarakat Petarukan tersebut.
Sementara itu, warga berharap agar keluhan mereka tidak lagi hanya didengar menjelang momen politik atau seremonial pembangunan, melainkan benar-benar ditindaklanjuti.
“Kami tidak butuh janji, kami butuh aksi nyata,” tegas warga lainnya dengan penuh harap.
Aksi gotong royong warga ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Ketika janji pembangunan hanya berhenti di panggung pidato, rakyatlah yang menanggung akibatnya — dengan tenaga, keringat, dan uang sendiri.
(sukron/red)




