
JAKARTA, kabarSBI.com – Suasana haru dan bangga menyelimuti Aula Masjid Babussalam, Komplek Kantor Walikota Administrasi Jakarta Utara pada Senin (22/6/2026).
Pondok Pesantren Nurul Jalal sukses menggelar prosesi wisuda Akhirussanah untuk santriwan dan santriwati lulusan kelas IX Tsanawiyah dan kelas XII Madrasah Aliyah (setara SMP – SMA) Tahun Ajaran 2025/2026.
Rangkaian acara perpisahan seketika banyak orang tua penuh haru saat para santri melantunkan janji setia dan bait-bait perpisahan. Menyaksikan ketulusan serta perubahan besar pada anak-anak mereka, tidak sedikit orang tua terpana dan tak kuasa menahan air mata bahagia dan rasa syukur.
Acara ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan lokasi geografis bukan penghalang untuk mencetak generasi unggul yang membanggakan dan berahlak mulia.
Momen sakral ini dihadiri langsung oleh tokoh-tokoh besar, di antaranya:Dr. KH. Abi Ichwanuddin, M.Si, M.H. (Ketua Yayasan Nurul Jalal) Dr. Wahyu Misbach, M.A. (Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jalal) Mukhlis (Kepala Bagian Kesra Setkot Jakarta Utara, mewakili Walikota Jakarta Utara Hendra Hidayat) Perwakilan Kanwil Departemen Agama DKI Jakarta, para pendidik, serta orang tua santri.
Tak hanya itu, ucapan selamat dan sukses mengalir dari para petinggi daerah, termasuk Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, hingga Baznas (Bazis) DKI Jakarta.
Pesantren “Dalam Gang”
Pondok Pesantren Nurul Jalal terletak di dalam gang kecil, tepatnya di Jl. Warakas V Gang 2, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun, jangan remehkan gaungnya. Sejak berdiri tahun 2010, nama pesantren ini telah menyebar dari mulut ke mulut hingga ke luar pulau.
“Kami memang berada di dalam gang, jadi tidak terlalu kelihatan. Namun demikian, pondok pesantren kami mulai dikenal bukan saja di Jakarta Utara tapi sudah ke berbagai daerah. Santri kami ada yang datang dari Manado, Serang, Lebak, Majalengka, Bekasi, Bogor, dan wilayah lainnya,” ungkap Dr. Wahyu Misbach, M.A., yang juga merupakan pengurus MUI Jakarta Utara.
Meskipun berbasis pesantren tradisional yang kuat dalam pembacaan Al-Qur’an dan pendalaman kitab kuning, Nurul Jalal menerapkan kurikulum yang modern dan adaptif.
Dibidang Keagamaan fakus pada penguatan akhlak, tahfizh Al-Qur’an, dan kajian kitab klasik. Dibidang Sains & Teknologi ada pelajaran Komputer, Teknologi Informasi (IT), Fisika, dan Bahasa Inggris.
“Alhamdulillah, santri-santri kami lulus semua. Kami sangat bangga karena mereka mampu menunjukkan nilai yang bagus. Di sini pelajaran umum tetap sama, hanya saja porsi pelajaran agama jauh lebih banyak,” tambah Wahyu Misbach.
Ia juga mendoakan agar para alumni bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan mengamalkan ilmunya di masyarakat.
Rasa syukur mendalam terpancar dari wajah para wali santri. Salah satunya adalah orang tua dari Adinda, santriwati asal Jakarta Barat. Adinda tidak hanya berhasil lulus Aliyah, tetapi juga sukses menyelesaikan Imtihan Tahfizh 2 Juz Al-Qur’an dengan predikat Jayyid (Bagus/Berkualitas).
“Meski anak kami di pondok pesantren, ilmu pengetahuan lainnya juga dapat. Alhamdulillah di Nurul Jalal ini pelajaran seperti komputer dan IT juga dipelajari. Ekskulnya sama seperti sekolah umum, tetapi di sini akhlak dan ilmu agamanya jauh lebih kuat,” ujarnya puas.
Pernyataan senada juga datang dari orang tua santri asal Rawabadak, Jakarta Utara. Meski anaknya baru duduk di kelas XI (kelas dua), ia mengaku sangat puas dengan perkembangan bimbingan agama dan ilmu reguler yang didapatkan anaknya di pesantren ini.
Pondok Pesantren Nurul Jalal membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan pembatas bagi anak bangsa untuk menjadi penghafal Al-Qur’an dan menguasai teknologi.Melalui pengelolaan keuangan yang humanis, pesantren ini menerapkan sistem jaring pengaman sosial yang memastikan setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar.
Salah satu kunci keberlanjutan operasional Pondok Pesantren Nurul Jalal sejak tahun 2010 adalah penerapan sistem subsidi silang. Dalam sistem ini, infak atau biaya pendidikan diatur secara proporsional berdasarkan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga wali santri.
Bagi keluarga mampu pembayaran biaya operasional disesuaikan secara penuh, yang sekaligus bernilai ibadah karena sebagian dananya dialokasikan untuk membantu sesama.
Bagi keluarga kurang mampu mendapatkan keringanan biaya, beasiswa, hingga pembebasan biaya tertentu agar anak-anak mereka tetap bisa mondok dengan tenang, dan bagi Keluarga tidak mampu gratis.
Sistem yang dibangun di Ponpes Nurul Jalan ini memastikan roda operasional pesantren tetap berputar, fasilitas belajar tetap terpenuhi, namun di sisi lain, tidak ada satu pun santri yang dikeluarkan atau ditolak hanya karena masalah biaya.
Kabar Baik Warga Jakarta
Pesantren Nurul Jalan menerima Dana KJP Plus Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga lokal DKI Jakarta dan sinergi dengan program pemerintah daerah, Pondok Pesantren Nurul Jalal juga resmi menerima peserta Kartu Jakarta Pintar (KJP).
Ini menjadi pilihan alternatif para orang tua di wilayah Jakarta Utara dan sekitarnya yang ingin menyekolahkan anaknya ke pesantren namun terkendala biaya. Dana bantuan KJP dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat diintegrasikan untuk membantu pembiayaan pendidikan regular maupun kitab kuning di madrasah aliyah pondok tersebut.
Pesantren ini membuktikan bahwa pendidikan karakter adalah hak semua anak. Dengan adanya subsidi silang dan akses KJP, keragaman latar belakang santri di Nurul Jalal justru menjadi kekuatan, kepedulian dan ketaatan.
Santri yang datang jauh dari luar daerah seperti Bekasi, Serang, Majalengka hingga Manado berbaur bersama anak-anak lokal Jakarta tanpa adanya sekat pemisah strata sosial. Bagi para orang tua, model pembiayaan seperti ini memberikan ketenangan batin.
Mereka tahu bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan tidak hanya membiayai masa depan anak sendiri, tetapi juga ikut mengalir sebagai amal jariyah untuk menyekolahkan anak-anak yatim atau dhuafa yang belajar di dalam kamar asrama yang sama.
(saimin)


