TASYAKUR DI BALIK DUKA: WARGA TERDAMPAK RAMP 4 TOL WIYOTO WIYONO PERERAT SILATURAHMI JELANG PEMBONGKARAN RUMAH

TASYAKUR DI BALIK DUKA: WARGA TERDAMPAK RAMP 4 TOL WIYOTO WIYONO PERERAT SILATURAHMI JELANG PEMBONGKARAN RUMAH 1JAKARTA, KabarSBI.com — Suasana haru sekaligus penuh keakraban mewarnai kegiatan tasyakur dan silaturahmi warga terdampak pembangunan Ramp 4 Tol Wiyoto Wiyono di wilayah RT 10 dan RT 11, RW 012, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 24 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu momen terakhir bagi warga yang selama ini menempati kawasan terdampak proyek, sebelum rumah-rumah mereka dibongkar untuk kepentingan pembangunan. Proses pembebasan lahan telah disepakati melalui mekanisme ganti untung bagi warga terdampak.

TASYAKUR DI BALIK DUKA: WARGA TERDAMPAK RAMP 4 TOL WIYOTO WIYONO PERERAT SILATURAHMI JELANG PEMBONGKARAN RUMAH 2Di balik kegiatan sederhana itu, tersimpan perasaan yang bercampur antara haru, sedih, dan rasa syukur. Ada kesedihan karena harus meninggalkan rumah yang telah ditempati selama bertahun-tahun. Namun di sisi lain, warga bersyukur karena proses pembebasan lahan dapat berjalan aman dan kondusif sesuai kesepakatan.

Tasyakur tersebut bukan sekadar bentuk perayaan karena warga akan meninggalkan rumah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus momentum untuk mempererat ukhuwah dan tali silaturahmi antarsesama warga.

Dengan dana hasil patungan dan dukungan sejumlah donatur, warga dapat berkumpul, makan bersama, dan berbagi kebahagiaan dalam suasana sederhana namun penuh keakraban.

“Ini bukan tasyakur karena senang meninggalkan rumah. Justru ada rasa sedih karena rumah ini sudah cukup lama kami tempati. Namun, kami bersyukur masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dan berbagi bersama masyarakat. Walaupun sederhana, yang terpenting kebersamaan dan keberkahannya,” ujar Muhamad Zakaria, Ketua RT 10/12 Warakas.

Zakaria juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para donatur yang telah membantu terselenggaranya kegiatan tersebut, di antaranya Bapak Abdul Djunaedi, Bapak Rasidi/Frengky, Bapak Toyib/Aang Boy, Bapak Ubaidilah, serta seluruh pihak yang turut menyukseskan kegiatan tasyakur dan silaturahmi warga.

Menurut Zakaria, proses pembebasan lahan di wilayah RT 10 dan RT 11, RW 012, Warakas, sejauh ini berjalan aman dan kondusif. Kendati demikian, dirinya menegaskan akan tetap menjalankan fungsi pengawasan kewilayahan selama pembangunan Ramp 4 Tol Wiyoto Wiyono berlangsung.

“Kami akan terus memantau perkembangan pembangunan sampai pekerjaan selesai. Kalau nantinya ada persoalan di lapangan setelah pembongkaran maupun saat pengerjaan proyek, kami akan berupaya mengondisikan dan menyampaikannya kepada pihak kontraktor,” tegasnya.

Ia menambahkan, perhatian juga akan diberikan terhadap kemungkinan munculnya dampak pekerjaan proyek terhadap rumah warga yang tidak termasuk dalam objek pembebasan.

Apabila terdapat rumah yang tidak terdampak secara langsung namun mengalami kerusakan akibat aktivitas pembangunan, pihaknya akan mengupayakan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara baik, termasuk melalui perbaikan apabila kerusakan tersebut terbukti berkaitan dengan pekerjaan proyek.

“Kalau ada rumah yang tidak terdampak tetapi kemudian rusak akibat pekerjaan proyek, kami akan mengupayakan agar dapat diperbaiki. Kami akan terus memantau dan mengondisikan agar persoalan di lapangan tidak menimbulkan masalah baru bagi warga,” ujarnya.

Untuk memastikan kondisi di lapangan tetap terpantau, warga juga menyiapkan pengawasan lingkungan selama proses pekerjaan berlangsung. Dua orang, yakni Om Gerry dan Om Ali Dayak, akan turut membantu memantau aktivitas proyek di wilayah tersebut dan berkoordinasi dengan pengurus RT apabila ditemukan persoalan yang perlu segera ditindaklanjuti.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa tasyakur yang dilanjutkan makan bersama. Suasana semakin hangat ketika warga bersama-sama menyanyikan lagu “Kemesraan” karya Iwan Fals.

Lagu tersebut seolah menjadi simbol harapan agar kebersamaan dan persaudaraan warga tetap terjaga, meskipun sebagian dari mereka harus meninggalkan rumah dan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kehidupan.

Bagi warga terdampak, malam itu bukan sekadar perpisahan dengan sebuah bangunan.

Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah rumah mungkin dapat ditinggalkan, tetapi persaudaraan, silaturahmi, dan kebersamaan di antara warga diharapkan tetap menjadi bagian yang tidak ikut hilang bersama perubahan kawasan. (ali/red)