oleh

Nenek Entut Warga Pangandaran Tewas Akibat di Patok Ular Belang

-Headline, Daerah-158 Dilihat
Nenek Entut Warga Pangandaran Tewas Akibat di Patok Ular Belang 1
ILUSTRASI

PANGANDARAN, kabarSBI.com – Seorang nenek bernama Entut (70), warga Dusun Patingen II, RT 023/007 Desa Karangpawitan Kecamatan Padaherang, Pangandaran menjadi korban gigitan ular welang, yang berakibat sang nenek meninggal dunia meski sempat mendapat pertolongan medis.

Kejadian itu terjadi saat sang nenek sedang menonton TV bersama cucunya,  berusia14 tahun, Selasa malam (17/12/2019).  Destri sang cucu sempat mengantar berobat neneknya ke seorang tenaga medis yang buka praktek sekitar 700 meter dari rumahnya, sekitar pukul 23.30 WIB.

Menurut Destri, seorang media inisial DN sempat memberikan penanganan dan memberikan suntikan maag dan obat karena sang nenek merasa mual-mual, DN juga sempat menyuruh ke puskesmas.

Namun kata, Destri setelah ada penangan medis dari DN langsung pulang berjalan kaki menuju rumah di dusun patingen. Setibanya dirumah sang nenek makin lemah tak berdaya. Sang nenek Entut sempat telepone anaknya bernama Hermawan. Diduga sebelum tergulai lemas karena pengaruh racun dari ular sudah menyebar ke seluruh tubuh Entut pun sempat tak sadar.

Wawan yang mengetahui orang tuanya lemas langsung membopong ibunya karena tidak ada kendaraan menuju ke rumah tenaga medis yang berinisial YN.

“Saya sempat dengar bila ada yang kena gigitan ular berbisa suruh datang ke medis (YN) karena cuman saya mantri yang punya paksin penawar bisa ular ucap,” ucap Wawan menirukan ucapan YN saat itu disela-sela dukanya, Rabu, 18/12/2019.

Nenek Entut Warga Pangandaran Tewas Akibat di Patok Ular Belang 2
Keluarga Nenek Entut saat berdukacita. (dok)

Wawan mengungkapkan dirinya melakukan pertolongan itu, tak berpikir panjang lagi karena ucapan YN, ia pun langsung membopong ibunya. Namun sangat di sayangkan saat itu YN sudah tidur.

“Saya gedor-gedor rumahnya namun pemilik rumah tidak ada yang bangun, saya sempat panik dan menggeletakan ibu saya di aspal. Saya sempat menuju rumah orang tua (YN) namun sama tidak aga ada yang bangun,” ungkap wawan sedih.

Menurut Wawan harapkan ada pertolongan dari YN sia-sia dia pun membawa ibunya pulang kerumah dan membangunkan tetangganya untuk minta pertolongan meminjam motor untuk membawa ibunya ke Puskesmas Padaherang.

“Setelah mendapat pinjaman kendaraan saya bawa Ibu saya ke Puskesman Padaherang. Alhamdulilah pihak Puskesmas menangani dengan baik dan sigap memberikan suntikan paksin anti racun gigitan ular berbisa. Sayangnya setelah beberapa menit mendapat perawatan dan  di inpus ibu saya meninggal dunia,” kenang wawan seraya menyesali karena telat ibunya mendapat penanganan yang baik.

“Mungkin ini sudah takdir ibu kami,” kata dengan berlinang air mata.

Di tempat terpisan (YN) saat di komfirmasi situs berita ini di Halaman belakang tempat Parkir motor di lokasi Puskesmas padaherang di dampingi seorang tenaga medis Panji Nugroho M, YN mengklarifikasi bahwa apa yang di ungkapkan wawan tidak benar.

“Kalau saya pernah bicara kalau ada yang kena gigit ular suruh datang ke kami, dan kami tidak memiliki obat paksin bisa ular. Itu semua tidak betul mungkin salah tangap, kami tida pernah bicara seperti itu, dan dimana,” dalih YN, balik bertanya.

“Saya tidak memiliki Paksin itu, paksin yang ada cuman di puskesmas, kami para medis tidak memilikinya.  Semalam tidak tau ada yang datang kerumah, kami tidur pulas kecapean kerja terlalu sibuk dan tidak mendengar suara apapun,” sambung dia.

Di tempat terpisah tenaga medis (DN) yang pertama menangni nenek Entut saat di komfirmasi kabarsbi.com di rumahnya sekaligus tempat praktek pengobatan membenarkan kedatangan Nenek Entut bersama cucunya Destri.

“Kami betul kedatangan Nenek Entut bersama Cucunya dan kami sempat kaget malam-malam sekitar 23:30 kedatangan nenek Entut dan berjalan kaki begitu jauhnya mereka minta di periksa dan kami sempat mengarahkan ke puskesmas. Karena kalau kena bisa ular harus cepat di tangani dan diberikan paksin penawar bisa ular dan demi kemanusian saya memeriksa darah dan di berikan obat itu penangan kami,” jelas DN.

“Tapi saya tidak memberikan suntikan maag seperti yang di katakan Destri. Alasan kami kenapa kami tidak mengantar nenek Entut ke puskesman karena kami capek, bukan tidak kasihan. Motor saya juga baru saja di masukan ke dalam rumah jadi saya tidak bisa mengantarkan,nenek Entut ke puskesmas,” ucapnya. (bono/bud/r/as)

Kabar Terbaru