Cerita Sami, Warga Miskin Kota: Dari Buruh Cuci Sampai Rumah Bakal Ambruk Terus Berjuang Hidupi Keluarga

Cerita Sami, Warga Miskin Kota: Dari Buruh Cuci Sampai Rumah Bakal Ambruk Terus Berjuang Hidupi Keluarga 1
Sami bersama anak, cucu dan suami di rumahnya yg dalam proses perbaikan.. (dok)

JAKARTA, KabarSBI.com – Ditengah gemerlap kehidupan Kota Metropolitan Jakarta menyimpan kisah perjuangan yang jarang terekspos. Cerita dari seorang ibu, warga Jakarta Utara yang sudah puluhan tahun hidup serba kekurangan, namun tetap tabah dan sabar..

Dia adalah, Sami,. 45 tahun, salah seorang warga miskin ekstrem Kota. Suatu ketika di bulan Syawal 1447 H atau disuasana hari raya idul Fitri tahun 2026. Dia bercerita ingin sekali memiliki satu kamar kecil untuk suaminya bernama Jumadi, 50, agar dapat menjalankan ibadah sholat. Jadi Ketika hujan tidak harus ke musholah yang harus berjalan kaki sekitar 200 meter, dari kediamannya.

Diceritakan suaminya pekerja serabutan kadang mulung jasa buang sampah dan barang bekas. Tapi saat ini suaminya mengalami sakit sehingga dalam 2 – 3 tahun ini tidak mempunyai penghasilan untuk keluarga..karena itu,.Sami, ambil kendali sebagai tulang punggung keluarga, bekerja harian lepas sebagai buruh cuci piring dan baju, sebelumnya dia mendorong gerobak jasa buang sampah warga.

Sami iklas menjadi tulang punggung keluarga bukan hanya membantu suami tetapi menghidupi 2 anaknya yang masih sekolah di tingkat dasar (SD) dan dua orang cucunya, satu cucu diantaranya telah ditinggal bapak dan ibunya yang telah berpisah.

Sami juga menceritakan kondisi tempat tinggalnya bersama suami, anak dan cucu. Rumahnya berada satu tempat di lahan milik pemerintah DkI Jakarta, namun dia mengaku telah menempati lebih dari 20 tahun.

Cerita Sami, Warga Miskin Kota: Dari Buruh Cuci Sampai Rumah Bakal Ambruk Terus Berjuang Hidupi Keluarga 2
Perbaikan rumah Sami berjalan tersendat karena kurang biaya. (dok)

Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan, terbuat dari material kayu, bambu, seng, asbes yang semuanya barang bekas. Lantainya sendiri dari tanah, tidak ada lantai pelur apa lagi keramik.

Dan, yang membuatnya Sami cerita hingga meneteskan air mata adalah ketika hujan datang, semua ruangan bocor, lantai tanahnya becek, dan anak -anaknya tidak dapat tidur dengan nyaman.

Sami memang mengaku tidak pernah merasa nyaman, rumah sudah reot dan compang camping, bocor, banyak nyamuk, banyak anak kecil, sumpek dan sangat jauh dari hidup layak.

“Semua itu, saya jalani dengan penuh semangat dan kesabaran, meski saya harus menjadi tulang punggung keluarga,” ucap Sami tulus.

Matanya berkaca – kaca, sambil memeluk anak dan cucunya, ketika Sami mengutarakan ingin membantu suami yang dalam kondisi sakit tapi masih bisa berjalan dan beribadah.

“Saya ingin sekali memperbaiki rumah, yang penting adalah kamar asal kecil saja, asal bisa suami sholat dirumah tidak becek dan tidak kehujanan. Saya ingin suami saya tetap bisa sholat,” ucapnya lirih.

Saat itu, pasca hari raya idul Fitri sami menceritakan memiliki sedikit rejeki hasil mengumpuli dari uang para orang – orang baik dan peduli pada dia dan keluarganya.

Lebaran lewat dua Minggu, Sami melanjutkan ceritanya memiliki uang tersisa Rp 1,5 juta. Dalam batinya kalau untuk makan saja pasti habis tiada berbentuk.Lalu dia, niat ingin memperbaiki rumah reotnya dan kamar kecil untuk sholat. Tetapi suaminya menginginkan supaya uang itu untuk membuat gerobak agar suaminya bisa usaha, meski jalan pelan-pelan.

” Kalau punya gerobak sendiri, memang itu lebih baik jadi kami tidak mikir setoran. Suami bisa usaha, tapi saya ingin memperbaiki rumah juga,” bingung dia.

Pada akhirnya dia dan suami memutuskan untuk memperbaiki rumah dulu asal tidak kehujanan, asal bisa untuk sholat karena rumahnya reot dan bakal ambruk. Itu pun dia masih bingung hanya punya uang 1,5 juta rupiah,.bisa sampai mana, sementara belanja material dan tukang, pasti butuh biaya besar

Entahlah..batin dia, tekadnya kuat untuk memperbaiki rumah yang penting bisa bikin kamar asal kecil juga tidak mengapa, pikirnya. Seiring waktu impianya mulai terwujud.

“Alhamdulillah, saya seperti mimpi ada orang baik yang membantu material dan tenaga tukang. Meski tidak sepenuhnya tapi saya sangat bersyukur dengan uang sedikit itu, saya bakal punya kamar untuk sholat dan rumah tidak bocor, tidak becek,” ungkap Sami, tersenyum kecil.

Saat ini, kata dia, kurang lebih dua bulanh berjalan rumahnya sudah berdiri 50 persen dibangun sederhana. Pola pekerjaannya bila ada material yang sudah terkumpul baru dikerjakan, begitu seterusnya.

“Saya tidak pernah membayangkan memiliki rumah dan kamar dengan tembok dari bata dan hebel. Seumur hidup saya baru ini punya rumah tembok. Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih,” tulusnya.

Cerita Sami, Warga Miskin Kota: Dari Buruh Cuci Sampai Rumah Bakal Ambruk Terus Berjuang Hidupi Keluarga 3
Gerobak impian Sami guna dapat digunakan suaminya untuk mencari nafkah. (dok)

Rumah sami, ditanah pemerintah dengan luas sekitar 50 meter. Terdiri dari 3 kamar, dapur/kamar mandi dan ruang keluarga, hanya saja tidak semua ruangan layak, masih banyak biaya yang harus dia siapkan.

Sami, suami, 2 anak dan 2 cucunya menempati rumah itu. Mereka adalah warga Jakarta, kelahiran Jakarta semua. Bertahun tahun hidup sekeluarga dipinggiran ibukota jauh dari hidup layak dan sejahtera.

(Saimin)