PEMALANG, kabarSBI.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi sorotan publik, khususnya terkait aspek keamanan pangan bagi siswa. Sejumlah pihak menilai, untuk menghindari risiko keracunan massal, pelaksanaan MBG sebaiknya menggunakan sistem satu dapur untuk maksimal 1.000 penerima manfaat agar pengawasan mutu makanan lebih terkontrol dan distribusi lebih aman.Gagasan tersebut disampaikan menyusul kekhawatiran masyarakat atas potensi kelalaian dalam pengolahan makanan apabila satu dapur melayani terlalu banyak sekolah 26 Januari 2026.
Volume produksi yang terlalu besar dinilai meningkatkan risiko makanan tidak higienis, keterlambatan distribusi, hingga penurunan kualitas gizi.
Prinsipnya bukan sekadar memasak dalam jumlah banyak, tetapi memastikan setiap tahapan—mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan, sampai pengantaran—memenuhi standar kesehatan.Dengan skema 1 dapur untuk 1.000 penerima manfaat, pengawasan akan jauh lebih efektif.
Dapur MBG skala terbatas memudahkan petugas untuk melakukan kontrol suhu, kebersihan peralatan, serta uji kelayakan makanan sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah. Selain itu, jika terjadi masalah, penelusuran sumber penyebab dapat dilakukan lebih cepat sehingga dampak dapat diminimalkan.
Dinas Kesehatan setempat juga harus lebih tegas menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat pada setiap dapur MBG. Di antaranya, kewajiban pemeriksaan kesehatan bagi juru masak, penggunaan air bersih, pengolahan sesuai prinsip higiene sanitasi pangan, serta pengemasan makanan yang aman.
Dugaan kasus keracunan pada siswa harus menjadi perhatian serius.
Perut Siswa bukan laboratorium.
Anak-anak adalah kelompok rentan. Karena itu, selain kualitas gizi, faktor keamanan pangan tidak boleh ditawar.
Selain menekan risiko keracunan, model satu dapur dengan cakupan terbatas juga dinilai mampu membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat sekitar dan mendorong penggunaan bahan pangan lokal. Setiap dapur dapat bermitra dengan petani, peternak, maupun UMKM setempat sehingga perputaran ekonomi daerah ikut meningkat.
Ke depan, para pemangku kebijakan diharapkan tidak hanya fokus pada percepatan program MBG, tetapi juga pada desain sistem yang aman, terukur, dan berkelanjutan. Skema 1 dapur MBG untuk 1.000 penerima manfaat dianggap sebagai salah satu langkah strategis untuk memastikan tujuan mulia program ini tercapai tanpa mengorbankan keselamatan siswa.
(as/red)




