Bengkulu, kabarSBI- Terik matahari siang itu tak mampu membendung langkah ribuan mahasiswa yang perlahan memenuhi ruas jalan di depan Gedung DPRD Provinsi Bengkulu. Dari berbagai penjuru kota mereka datang, mengenakan almamater berwarna-warni, membawa poster, bendera, dan semangat yang sama: menuntut keadilan.
Di tengah kerumunan, suara orasi menggema lantang dari atas mobil komando. “Pemerintah harus peka! Wakil rakyat jangan tutup telinga terhadap penderitaan rakyat!” teriak seorang mahasiswa, mikrofon di tangannya bergetar, namun suaranya justru semakin menguatkan semangat massa. Riuh sorak dan tepukan mengiringi setiap kalimat yang dilontarkan.
Aksi kali ini bukan hanya sekadar protes. Ada luka dan duka yang mereka bawa. Sehari sebelumnya, publik dikejutkan kabar duka seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang tewas terlindas kendaraan taktis Baraccuda Brimob saat aksi di Jakarta. Nama Affan berkali-kali disebut dalam orasi, menjadi simbol solidaritas sekaligus amarah yang memantik kobaran semangat di Bengkulu.
Suasana sempat tegang ketika barisan mahasiswa mendorong maju ke gerbang utama DPRD. “Buka pintu! Kami ingin bicara langsung dengan wakil rakyat!” teriak mereka. Pagar besi bergetar, dorongan dari belakang membuat barisan depan kian rapat. Aparat kepolisian dan Brimob yang berjaga ketat segera membentuk barisan perisai, mencegah massa masuk. Sentuhan bahu dan dorongan keras menimbulkan kericuhan kecil, disertai teriakan yang memecah udara panas siang itu.
Namun, di balik ketegangan itu, terlihat wajah-wajah mahasiswa yang tetap kukuh berdiri. Ada yang duduk bersila di aspal, ada pula yang mengibarkan bendera organisasi mahasiswa setinggi mungkin, seolah ingin menunjukkan bahwa suara mereka tak bisa diredam.
Hingga menjelang sore, ribuan mahasiswa masih bertahan. Suara yel-yel “Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!” terus menggema, berpadu dengan tabuhan drum dan tiupan peluit. Meski kelelahan, semangat mereka tidak surut sedikit pun.
Di seberang pagar, aparat berdiri dalam diam, hanya sesekali berkomunikasi lewat HT. Sementara itu, mahasiswa menunggu satu hal: pintu dialog dibuka, agar suara rakyat benar-benar sampai ke telinga wakilnya.
Hari semakin meredup, tapi gema perlawanan itu tetap membahana di udara Bengkulu. Sebuah penegasan bahwa suara mahasiswa bukan sekadar teriakan di jalan, melainkan panggilan hati nurani untuk perubahan.
Tim liputan






