PEMALANG, kabarSBI.com – Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai diterapkan di sejumlah sekolah di Kabupaten Pemalang menyisakan persoalan bagi para pelaku usaha kecil. Para pedagang kantin, pedagang telur gulung, serta pedagang bakso di lingkungan sekolah mengaku terpukul karena omzet penjualan mereka menurun drastis sejak program tersebut berjalan.
Sebelum adanya kebijakan MBG, para pedagang menggantungkan hidup sepenuhnya dari jajan siswa saat jam istirahat. Namun, kini mereka harus berjuang keras hanya untuk sekadar menutupi modal harian.
Pada Selasa (28/04/2026), Agung Sulistio selaku Pimpinan Redaksi Kabarsbi.com yang tengah mengantarkan anaknya ke sekolah menyempatkan diri berbincang langsung dengan para pedagang di sekitar lingkungan sekolah.
Dalam perbincangan tersebut, sejumlah pedagang telur gulung dan pedagang bakso menyampaikan keluhannya. Mereka mengaku sejak adanya program MBG, jumlah pembeli menurun drastis karena siswa sudah mendapatkan makanan sejak pagi hari.
Salah satu pedagang telur gulung, Kang Imam, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda dibanding sebelumnya. Pendapatan harian menurun tajam hingga membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.
“Sangat drastis turunnya. Sebelum ada MBG, keuntungan masih lumayan buat makan keluarga. Sekarang, jangankan untung, untuk balik modal saja susah,” ujarnya dengan nada kecewa.
Para pedagang juga menilai kondisi ini berbanding terbalik dengan pihak penyedia jasa dapur MBG yang justru mendapatkan keuntungan lebih besar. Mereka berharap kebijakan ini tidak mengabaikan keberlangsungan usaha kecil yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi di lingkungan sekolah.
Meski demikian, para pedagang menegaskan tidak menolak program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi siswa. Namun, mereka berharap pemerintah dapat lebih bijak dalam mengatur teknis pelaksanaannya.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah terkait waktu pembagian makanan. Mereka berharap penyaluran MBG tidak dilakukan terlalu pagi, melainkan pada jam istirahat kedua sekitar pukul 12.00 WIB agar pedagang masih memiliki kesempatan berjualan.
“Kami tidak melarang program ini, tapi tolong perhatikan nasib kami kaum kecil. Pagi itu satu-satunya waktu kami mencari pembeli,” tambahnya.
Para pedagang berharap aspirasi ini dapat didengar oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang agar kebijakan nasional tersebut tidak mematikan usaha mikro yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat kecil di sekitar lingkungan sekolah.
(tim/red)


