JAKARTA, kabarSBI.com – Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menggelar dialog terbuka bersama ratusan mahasiswa dari berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia guna membahas isu strategis sektor pertanian nasional. Dalam forum tersebut, pembahasan difokuskan pada upaya memperkuat kemandirian pangan, energi, dan ekonomi desa melalui program hilirisasi komoditas unggulan nasional. Mentan menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia harus bergerak dari pola lama yang hanya menjual bahan mentah menuju industri pengolahan bernilai tambah tinggi agar kesejahteraan petani meningkat secara nyata, Sabtu, 9 Mei 2026.
Dalam pemaparannya, Amran menjelaskan bahwa komoditas seperti kelapa, sawit, dan gambir memiliki potensi ekonomi sangat besar apabila diolah menjadi produk turunan seperti minyak goreng, margarin, sabun, hingga produk kecantikan. Menurutnya, hilirisasi pada tiga komoditas tersebut berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga puluhan ribu triliun rupiah sekaligus membuka lapangan kerja baru di berbagai daerah. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp1,7 triliun dari pemangkasan biaya operasional yang dianggap tidak penting dan mengalihkannya untuk pengadaan pompa air bagi petani menghadapi musim kekeringan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi topik utama dalam dialog tersebut. Mentan menilai program MBG bukan hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi desa karena melibatkan jutaan petani sebagai pemasok utama bahan pangan. Ia menyebut program tersebut dirancang agar tepat sasaran dan sulit disalahgunakan, sekaligus menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Selain membahas hilirisasi dan MBG, diskusi juga menyoroti persoalan stabilitas harga beras serta praktik mafia pangan yang dinilai merugikan petani maupun masyarakat. Mentan menegaskan pemerintah terus menjaga keseimbangan harga agar tetap terjangkau bagi konsumen tanpa mengorbankan keuntungan petani sebagai produsen utama. Untuk memangkas rantai distribusi yang panjang, pemerintah mendorong penguatan koperasi agar hasil keuntungan panen dapat langsung dirasakan petani tanpa terlalu bergantung pada tengkulak maupun perantara.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa menyampaikan berbagai kritik dan persoalan yang masih terjadi di lapangan, mulai dari alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri hingga kelangkaan pupuk di sejumlah daerah. Menanggapi hal itu, Mentan menegaskan pemerintah telah memiliki regulasi kuat untuk melindungi lahan pertanian produktif dari alih fungsi ilegal. Ia juga memastikan pemerintah siap menindak tegas pelaku penyimpangan distribusi pupuk, termasuk pencabutan izin usaha apabila terbukti melanggar aturan.
Menutup dialog, Amran mengapresiasi sikap kritis mahasiswa yang dinilai menjadi mitra penting dalam mengawal kebijakan publik di sektor pertanian. Ia menekankan bahwa pembangunan pertanian membutuhkan kolaborasi lintas generasi serta kebijakan berbasis data dan fakta lapangan demi memperkuat ketahanan pangan nasional. Para mahasiswa pun menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah yang dianggap mulai berpihak pada kesejahteraan petani dan berharap berbagai program yang telah dijalankan dapat terus diperkuat secara konsisten.
(red)




