Ironi Generasi Emas: 12 SD di Karangnunggal Tak Layak, Pemerintah Daerah Dinilai Abai

Ironi Generasi Emas: 12 SD di Karangnunggal Tak Layak, Pemerintah Daerah Dinilai Abai 1

Tasikmalaya,kabarSBI  — Di tengah gencarnya kampanye pemerintah menuju Generasi Emas 2045, kondisi nyata di daerah justru menunjukkan ketimpangan mencolok. Sebanyak 12 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, kini dalam kondisi tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Ironi Generasi Emas: 12 SD di Karangnunggal Tak Layak, Pemerintah Daerah Dinilai Abai 2 Ironi Generasi Emas: 12 SD di Karangnunggal Tak Layak, Pemerintah Daerah Dinilai Abai 3 Ironi Generasi Emas: 12 SD di Karangnunggal Tak Layak, Pemerintah Daerah Dinilai Abai 4 Ironi Generasi Emas: 12 SD di Karangnunggal Tak Layak, Pemerintah Daerah Dinilai Abai 5 Ironi Generasi Emas: 12 SD di Karangnunggal Tak Layak, Pemerintah Daerah Dinilai Abai 6

Kondisi ini mengundang keprihatinan mendalam dari Aliansi Masyarakat Karangnunggal (AMKAR) yang menyuarakan kritik tajam atas sikap pasif pemerintah daerah. Mereka menilai telah terjadi pembiaran sistematis terhadap kerusakan infrastruktur pendidikan yang berlangsung selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan berarti.

“Jika sekolah dasar saja dibiarkan rusak dan membahayakan, lalu apa arti dari jargon wajib belajar dan Generasi Emas?” ungkap salah satu perwakilan AMKAR.
Kerusakan bangunan sekolah ini bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar, tapi juga mengancam keselamatan murid dan guru. AMKAR mencatat bahwa kondisi ini sudah lama terjadi, namun belum ada intervensi nyata dari Pemkab Tasikmalaya.

Mereka juga mempertanyakan keseriusan kepala daerah dalam melihat persoalan pendidikan secara strategis. Sebab, anak-anak sekolah dasar hari ini adalah fondasi bangsa di masa depan. Jika fasilitas mereka diabaikan, mimpi besar menuju Indonesia emas bisa menjadi utopia belaka.
AMKAR mendesak agar pemerintah daerah segera turun tangan dan menunjukkan kepedulian nyata, bukan sekadar retorika.

“Kami tidak butuh janji, kami menuntut aksi. Generasi emas tak lahir dari gedung sekolah yang nyaris ambruk,” pungkas AMKAR.
Kasus ini menjadi refleksi penting bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dipisahkan dari pembangunan sarana dasar pendidikan. Ketika 12 SD dibiarkan rusak begitu lama, maka yang rusak bukan hanya bangunannya, tapi juga komitmen kita terhadap masa depan bangsa.

Reporter:  E.K kabarsbi.com – TASIKMALAYA