Ketua Satgas Jaga Lembur Tanggapi Isu Kebocoran PAD dari Pengelolaan WC Umum di Kawasan Wisata

Daerah, Jawa Barat2389 Dilihat

Ketua Satgas Jaga Lembur Tanggapi Isu Kebocoran PAD dari Pengelolaan WC Umum di Kawasan Wisata 1

Pangandaran, kabarSBI – Pariwisata merupakan sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran. Kebocoran PAD di sektor pariwisata tentunya menjadi perhatian serius. Sebab Pemkab Pangandaran selalu menargetkan peningkatan PAD melalui sektor pariwisata, terutama dengan menarik kunjungan wisatawan

Pemeritah Kabupaten Pangandaran aktif melakukan giat peningkatan pengawasan, pada kasus terbaru, seorang wanita oknum penarik retribusi tiket wisata yang bertugas di pantai Batu Hiu berinisial UN terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh tim terpadu Polres Pangandaran dan Pos Polisi Militer (PM) Pangandaran karena aksi nekatnya melakukan pungutan liar (pungli) terhadap wisatawan

Peristiwa tersebut berkembang menjadi isu yang menyebut adanya kebocoran PAD dari pengelolaan WC umum di kawasan pinggir pantai

Satuan Tugas (Satgas) Jaga Lembur dituding menjadi pihak yang harus bertanggungjawab bahkan disebut selama ini seolah dibiarkan begitu saja luput dari pantauan tim terpadu.

Ketua Satgas Jaga Lembur Tanggapi Isu Kebocoran PAD dari Pengelolaan WC Umum di Kawasan Wisata 2

Ketua Satgas Jaga Lembur, Ade Entik, secara tegas mengatakan, “Itu tidak benar, harus di klarifikasi supaya jelas,” Ujarnya, pada awak media kabarSbi.com, Rabu (9/7/2025)

Ade menekankan point penting yang harus dipahami bahwa Pangandaran sebagai destinasi wisata pantai terfavorit dengan tingkat kunjungan wisata yang tinggi di Jawa Barat,

“Keberadaan WC umum itu dibangun sebagai fasilitas penunjang bagi kenyamanan wisatawan, bukan sumber penarikan PAD, dan pengelolaannya tidak berkontribusi langsung pada PAD,”tegasnya

Selain itu Ade menunjukkan bahwa para pengelola toilet, pedagang lapak, pedagang asongan, semua dikenakan tarif retribusi kebersihan oleh Dinas LHK,

“Penarikannya setiap hari sebesar Rp. 2.000,- kan itu bagian dari kontribusi terhadap pendapatan daerah melalui Dinas LHK” tuturnya

Ade menjelaskan bahwa WC umum di pinggir pantai merupakan fasilitas yang dibangun dari bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat,

“Pasca serah terima dari Pemprov Jabar ke Pemerintah Kabupaten Pangandaran, oleh Bupati saat itu dipercayakan kepada Satgas Jaga Lembur untuk memegang kunci WC umum yang tersebar di pinggir pantai sebanyak 20 titik. Bagi kami fasilitas yang sudah terbangun dengan baik oleh pemerintah, pemeliharaannya juga penting, dan itu bagian tugas kita bersama” jelasnya

Menurutnya WC umum di pinggir pantai bertujuan untuk memudahkan wisatawan setelah melakukan beragam aktivitas dilaut seperti berenang, snorkeling, berselancar, maupun berkeliling dengan perahu, mereka bisa menggunakan fasilitas untuk sekedar berbilas, buang air kecil, mandi atau ganti pakaian

Lalu Ade menerangkan terkait pengelolaan telah melalui proses musyawarah dengan berbagai elemen ke-pariwisataan di Pangandaran,

“Dirumuskan bersama, lewat musyawarah, kami (Satgas Jaga Lembur) tidak mengatur sendiri. Jadi, WC umum itu dikelola oleh orang lingkungan sekitar yang terdekat agar mudah dikontrol, misal titik lokasi di wilayah bulak laut pengelolanya dari bulak laut, mereka diarahkan sambil menjaga lapak dagangan makanan minuman untuk bertanggungjawab memelihara fasilitas umum, sebab dengan banyaknya pengguna mengakibatkan kondisinya sering dipenuhi pasir laut yang terbawa oleh wisatawan saat berbilas atau mandi, kan itu perlu ada yang memperhatikan” terang Ade

Harapannya dengan menjaga kebersihan lingkungan disekitar toilet umum akan berdampak positif pada penjualan mereka,

“Wisatawan yang menggunakan toilet umum dengan kondisi bersih terawat akan merasa nyaman untuk jajan diwarung disekitarnya, lalu diantara mereka (wisatawan) ada yang memberi uang itu bukan bayar tarif, tapi semata-mata bentuk kadedeuh (keihklasan) mereka kepada pengelola yang telah merawat kebersihan di fasilitas umum, karena tidak dipasang plang tarif di lokasi, dan tidak berorientasi pada penarikan uang dari wisatawan pedagang lainnya juga menggunakan toilet umum tersebut” ungkap Ade.

 

Tim lapangan