oleh

BPOM Tasikmalaya Legalkan Produksi Gula Merah Rafinasi Hasil Laboratorium Tahun 2020

-Daerah, Headline-1124 Dilihat

BPOM Tasikmalaya Legalkan Produksi Gula Merah Rafinasi Hasil Laboratorium Tahun 2020 1 PANGANDARAN,kabarSBI.com – Wartawan SBI yang berada dalam wadah Aliansi Wartawan Pasundan (AWP) DPD Pangandaran kecewa dengan hasil pertemuan dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Tasikmalaya dan tiga Dinas leading sektor di Kabupaten Pangandaran, Jawa barat.

Pertemuan melibatkan BPOM Tasikmalaya, Dinas Perizinan Kabupaten Pangandaran, Dinas Perdagangan dan UMKM Kabupaten Pangandaran serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran tersebut dilaksanakan di Dinas kesehatan Kabupaten Pangandaran pada Rabu (16/2/2022).

Kesimpulan dalam pertemuan menyatakan bahwa BPOM Tasikmalaya melegalkan produksi gula merah rafinasi hasil laboratorium pada tahun 2020 dan bisa diedarkan di pasaran untuk dikonsumsi langsung masyarakat.

Wartawan SBI, Suwarno mengatakan, awalnya pihak SBI mempertanyakan kualitas gula merah rafinasi yang diolah oleh pengusaha di Pangandaran.

“Namun kita diundang untuk musyawarah bukan untuk melakukan sidak ke lapangan. Sedangkan sampel gula yang dikatakan layak dikonsumsi dan dipasarkan itu kan sampel tahun 2020. Tapi, itu juga, saat ditanyakan hasil laboratoriumnya, itu tidak ada,” katanya.

BPOM Tasikmalaya Legalkan Produksi Gula Merah Rafinasi Hasil Laboratorium Tahun 2020 2Sementara, yang dipertanyakan adalah gula merah sekarang (tahun 2022), bukan pada tahun 2020 atau pada waktu pengusaha gula tersebut meminta izin produksi atau PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga).

“Saya kira akan ke lapangan, tapi hanya musyawarah yang mengundang kami dalam musyawarah dan melegalkan gula yang menggunakan rafinasi bahan. Cuman (hanya) membahas yang tahun 2020, sedangkan kejadiannya kan sekarang. Bisa saja kan sampel pada tahun 2020 itu dibawa untuk persyaratan PIRT, bukti di lapangan tidak tahu,” ungkapnya.

Ia mengatakan harusnya melakukan sidak dan membawa sampel gula untuk dicek lab supaya memastikan gula tersebut layak atau tidaknya untuk dikonsumsi.

“Harusnya seperti itu, sedangkan pemberitaan hanya statemen dari narsum dinas dan bukti di lapangan tidak mengetahui. Untuk membuktikan hal itu kita akan membawa sampel untuk dilakukan pengecekan,” pungkasnya. (sw)

Kabar Terbaru